Home / Belitong Humanities

Senin, 12 Januari 2026 - 10:36 WIB

Ketua LAM Belitung Tegaskan Peran Masyarakat Adat dalam Menjaga Alam dan Budaya Geopark

Suasana foto bersama dan penandatangan MOU antara BP geopark dengan LAM Belitung di Rumah Adat Belitung pada Senin 12 Januari 2026.

Suasana foto bersama dan penandatangan MOU antara BP geopark dengan LAM Belitung di Rumah Adat Belitung pada Senin 12 Januari 2026.

BelitongToday, Tanjungpandan – Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung, Achmad Hamzah, menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian alam dan budaya Belitung, khususnya dalam mendukung keberlanjutan Belitong UNESCO Global Geopark.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sarasehan Belitong UNESCO Global Geopark bersama Lembaga Adat Melayu Belitung yang berlangsung pada Senin, 12 Januari 2026, di Rumah Adat Belitung, Jalan A. Yani, Kelurahan Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.

Achmad Hamzah menyampaikan apresiasi kepada Badan Pengelola Geopark Belitung yang telah melibatkan LAM Belitung dalam upaya bersama menjaga kelestarian bumi Belitung.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, pengelola geopark, dan masyarakat adat dapat terus terjalin demi keberlangsungan alam dan budaya daerah.

Baca Juga  Tidak Kantongi Izin, Satpol PP Belitung Hentikan Pekerjaan Penggalian Lubang Tiang Reklame di KV Senang

“Kami mengucapkan terima kasih karena telah diajak bersama-sama menjaga kelestarian bumi Belitung. Semoga alam dan budaya Belitung tetap lestari,” ujar Achmad Hamzah.

Menurutnya, kegiatan sarasehan tersebut dinilai sangat penting karena masyarakat adat tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai budaya, tetapi juga sebagai pelindung lingkungan hidup melalui kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Ia menjelaskan bahwa di Belitung terdapat hutan-hutan kearifan lokal yang sejak dahulu dijaga oleh masyarakat adat sebagai bagian dari sistem kepercayaan dan budaya.

Hutan tersebut berfungsi menjaga keseimbangan alam sekaligus sebagai bentuk mitigasi bencana secara tradisional.

Achmad Hamzah juga menyinggung keberadaan hutan yang dikenal masyarakat sebagai hutan “pembuangan” di Desa Sungai Samak, Kecamatan Badau.

Baca Juga  Dua Organisasi FLLAJ Belitung Terima Hibah Masing-Masing Rp500 Juta dari Australia

Berdasarkan kepercayaan adat, hutan tersebut merupakan tempat pembuangan makhluk halus, sehingga secara tidak langsung kawasan itu tetap terjaga dan tidak dirusak oleh manusia.

“Kearifan lokal seperti inilah yang sejak dulu telah menjaga alam Belitung. Ini harus dipahami dan dihargai sebagai bagian dari warisan leluhur,” tambahnya.

Sarasehan ini turut dihadiri Wakil Bupati Belitung Syamsir, Ketua Dekranasda dan TP PKK Kabupaten Belitung Hastari Wardianti Djoni Alamsyah, Sekretaris Daerah Belitung sekaligus Ketua Umum BP Geopark Belitung Marzuki, serta sejumlah pejabat daerah, tokoh adat, budayawan, dukun kampong, dan pengurus LAM Belitung.

Share :

Baca Juga

Belitong Humanities

Program MBG di Belitung Berhenti Mendadak, Ternyata Ini Alasannya!

Belitong Humanities

Ini Alasan Pj Gubernur Babel Lantik Yuspian di Belitung
Tim

Belitong Humanities

Selesaikan Konflik Foresta Lestari Dwikarya, Pj Gubernur Babel Bentuk Tim Terpadu

Belitong Humanities

PPBI Cabang Belitung Gelar Rakercab 2026, Susun Strategi Majukan Seni Bonsai

Belitong Humanities

FPMB Menilai Konflik Foresta Vs Masyarakat Tidak Berimbang

Belitong Humanities

Arus Mudik Libur Nataru di Pelabuhan Tanjungpandan Berlangsung Normal, Tidak Ada Lonjakan Penumpang

Belitong Humanities

KNPI Belitung Sesalkan Dugaan Korupsi Dana Paskibraka, Dukung Kejaksaan Usut Tuntas !
kantor Bupati

Belitong Humanities

Sarana dan Prasarana Penunjang Kantor Bupati Belitung Diresmikan, Sekda Harap Dimanfaatkan dengan Baik