BelitongToday – Pemerintah Kabupaten Belitung akan menggelar kegiatan Belitung Chinese Internasional Festival (BCIF) 2024. Kegiatan akan berlangsung pada 1 Maret sampai 4 April mendatang.
BCIF 2024 digelar dengan tujuan memulihkan kondisi kepariwisataan Belitung akibat pandemi Covid-19. Kondisi pariwisata Belitung dalam beberapa tahun terakhir belum cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan berkurangnya jumlah penerbangan ke Belitung sehingga otomatis berdampak terhadap jumlah kunjungan wisatawan.
Selain itu, BCIF 2024 digelar bertepatan dengan perayaan tradisi Cheng Beng atau sembahyang kubur bagi etnis Tionghoa. Biasanya untuk merayakan Cheng Beng banyak warga keturunan Tionghoa pulang ke Belitung untuk berziarah ke makam leluhur.
Tidak hanya dari laut kota namun warga keturunan Tionghoa yang menetap di luar negeri juga akan pulang kampung untuk berziarah. Hal ini sudah menjadi kewajiban setiap tahunnya sebagai penghormatan kepada leluhur.
Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Belitung, mendukung kegiatan BCIF 2024. Menurut Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung, Achmad Hamzah, BCIF 2024 dapat menyatukan dan memperkuat keberagaman kekayaan budaya daerah.
“Kegiatan Belitung Chinese Internasional Festival 2024 akan menyatukan dan memperkuat keberagaman kekayaan budaya daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, Belitung Chinese Internasional Festival 2024 diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan warga keturunan Tionghoa saja, melainkan menjadi wadah inklusif bagi seluruh masyarakat Belitung.
Belitung Chinese Internasional Festival 2024 menjadi momentum yang tepat untuk mempererat kebersamaan dalam membangun adat dan budaya daerah.
“Sehingga kami menilai pelaksanaan Belitung Chinese Internasional Festival 2024 adalah momentum untuk memperkuat keberagaman budaya apalagi kegiatan ini dilaksanakan di tengah sedang berlangsungnya ibadah umat muslim di bulan puasa,” jelasnya.
Usulkan Pemasangan Payung Lilin
LAM Belitung mengusulkan agar pemerintah daerah dapat melakukan pemasangan “Payung Lilin”. Payung Lilin akan memperkuat identitas Melayu selama berlangsungnya kegiatan tersebut. Selain itu pula, Payung Lilin mengandung nilai-nilai filosofi kehidupan.
“Payung Lilin memiliki arti yang universal tentang tugas pokok dan kewajiban manusia yakni menjaga keseimbangan hubungan dengan sang pencipta, menjaga keseimbangan hubungan dengan sesama manusia, menjaga keseimbangan hubungan manusia dan lingkungan,” jelasnya. (Nazriel)







