BelitongToday, Tanjungpandan – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meminta Pertamina melakukan perombakan secara radikal. Ini terkait sistem penyaluran gas elpiji subsidi tiga kilogram di Belitung.
Hal ini Ahok sampaikan kepada awak media di Gedung Serba Guna (GSG) Pemkab Belitung, Senin (14/8).
“Saya minta Pertamina rombak secara radikal, karena kasus ini terjadi di seluruh Indonesia. Semua teriak tidak ada elpiji, kenyataannya elpiji melimpah di SPPBE. Kemudian setiap kali mau susun anggaran elpiji hilang di pasaran, laporan ke pemerintah kurang ada peningkatan-peningkatan,” jelasnya.
Selain itu, Ahok mengancam tidak segan-segan akan mencabut izin agen elpiji yang nakal di Belitung.
Ahok mensinyalir, kelangkaan gas elpiji tiga kilogram di Belitung karena ulah oknum spekulan.
“Alasannya elpiji selalu kurang, padahal Pertamina tidak pernah kekurangan elpiji, SPPBE sudah kita cek ternyata ada stok elpiji. Berarti ada sesuatu di agen dan pangkalan,” paparnya.
Ahok juga menyesalkan harga elpiji tiga kilogram di Belitung mencapai Rp40 ribu per tabung. Padahal, jika harga jual elpiji sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi), jumlah tersebut bisa memenuhi tiga sampai empat tabung elpiji kebutuhan masyarakat.
“Kepala Desa bilang ke saya beli elpiji tiga kilogram sampai Rp40 ribu per tabung. Ini namanya inflasi karena beli gas dengan harga mahal, kasihan masyarakat di desa,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, jika elpiji tersebut penyalurannya bisa ke pihak desa langsung maka lebih tepat sasaran. Dan, masyarakat mendapatkan harga jual elpiji sesuai HET.
“Dengan penyaluran elpiji tiga kilogram ke pemerintah desa secara langsung, maka akan menjadi lebih tepat sasaran dan sesuai HET. Karena, pihak desa lebih tahu siapa yang butuh elpiji tiga kilogram,” tutupnya. (Nazriel)







