Home / Belitong Opinion

Jumat, 24 Oktober 2025 - 01:31 WIB

Legenda Beripat Beregong: Kisah dari Kelekak Gelanggang

Dari legenda cinta dan adu ketangkasan, lahirlah tradisi Beripat Beregong. Simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan masyarakat Desa Badau.

Dari legenda cinta dan adu ketangkasan, lahirlah tradisi Beripat Beregong. Simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan masyarakat Desa Badau.

Oleh: Sanggar Turnera Balansi Badau

Dikisahkan pada zaman dahulu kala, di sebuah tempat bernama Kelekak Gelanggang, hiduplah seorang gadis yang kecantikannya tersohor hingga ke kampung-kampung sekitarnya. Wajahnya ayu, tutur katanya lembut, dan sikapnya santun. Tak heran, banyak pemuda dari berbagai kelekak datang untuk melamar gadis itu, berharap dapat menjadikannya sebagai istri.

Beripat Beregong simbol harga diri dan kejantanan.

Namun, banyaknya lamaran yang datang membuat orang tua si gadis kebingungan. Mereka tidak ingin salah memilih menantu, sebab sebagian besar para pelamar dikenal sebagai pemuda berilmu tinggi dan memiliki kemampuan luar biasa. Maka, diputuskanlah satu cara untuk menentukan siapa yang paling layak mendampingi sang putri. Sebuah gelanggang dibuka, dan adu ketangkasan digelar.

Baca Juga  Terapkan Kurikulum Merdeka, SMPN 1 Gantung Gelar "Education Day"
Di Kelekak Gelanggang, cinta melahirkan tradisi.

 

Hari itu, masyarakat dari berbagai penjuru berdatangan. Di tengah lapangan, para pemuda berdiri gagah dengan rotan di tangan, siap menunjukkan keberanian dan ketangkasan mereka. Iringan bunyi gong, kelinang, dan serunai mengiringi suasana, menandai dimulainya pertarungan yang disebut “Beripat Beregong.”

Irama gong dan sabetan rotan menjadi saksi lahirnya Beripat Beregong, warisan budaya yang meneguhkan jati diri masyarakat Desa Badau.

Satu per satu para jagoan maju ke gelanggang. Mereka beradu cepat, saling memukul dengan rotan di punggung dan bahu, sementara irama gong terus berpadu dengan semangat para penonton. Setiap sabetan bukanlah amarah, melainkan lambang keberanian dan kehormatan.

Baca Juga  Menanti Jurus Sakti Mikron Antariksa Tanggulangi Kemiskinan Ekstrem di Belitung
Beripat Beregong menggambarkan keberanian dan cinta sejati.

Konon, karena sebagian besar peserta memiliki ilmu tinggi, pertarungan berlangsung seimbang. Tidak ada yang benar-benar kalah, tidak pula ada yang mengaku menang. Hanya mereka yang pulang tanpa bekas pukulan di punggung yang kemudian dinyatakan sebagai pemenang sejati, sebagai tanda ketangkasan, kesabaran, dan pengendalian diri.

Beripat Beregong bukan hanya permainan, tapi pernyataan bahwa budaya adalah napas kehidupan.

Dari kisah inilah, tradisi Beripat Beregong lahir dan diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Badau Pulau Belitung. Bukan sekadar adu fisik, tetapi juga simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan di antara sesama. Irama gong dan deru rotan menjadi saksi bagaimana nilai-nilai itu terus hidup dalam setiap generasi.

Share :

Baca Juga

Belitong Opinion

BPC HIPMI Belitung Dorong Kenaikan Tren Investasi, DPMPTSPP Belitung Diminta Lebih Aktif dan Berbenah

Belitong Opinion

Biji Ketiau, Potensi Ekonomi Baru Masyarakat Desa Kemiri

Belitong Opinion

Pulau Belitung

Belitong Opinion

Sahani Saleh, dari ‘Tuk Lanun’ Hingga Pantun Bunga Teruntum di Atas Batu
Pendidikan Moral Anak

Belitong Opinion

Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Anak
Kebakaran

Belitong Opinion

Berbagai Sudut Pandang dari sebuah Kebakaran

Belitong Opinion

“KETIKA MESIN MENGAMBIL ALIH: MASIHKAH ADA TEMPAT BAGI INTEGRITAS ASN DALAM PELAYANAN PUBLIK MODERN?”

Belitong Opinion

Sudah Matikah Etika dan Moralitas Seorang Mahasiswa ?