BelitongToday, Tanjungpandan – Selepas perayaan Idul Fitri biasanya akan ramai para pendatang untuk merantau dan mencari penghidupan yang lebih layak di luar daerah maupun kota.
Tidak sedikit, terkadang pendatang secara ramai maupun berbondong-bondong menuju suatu wilayah atau daerah yang dianggap dapat memberikan penghidupan atau pekerjaan yang lebih layak.
Fenomena ini terkadang menimbulkan permasalahan tersendiri baik dari aspek kependudukan, sosial, dan lain sebagainya.
Sehingga fenomena semacam ini yang kerap terjadi selepas perayaan Idul Fitri selalu diantisipasi oleh setiap pemerintah daerah.
Salah satu kota tujuan dari para pendatang untuk merantau baik bekerja atau mencari penghidupan yang lebih layak adalah Pulau Belitung.
Belitung di mata para pendatang, terkenal dengan kekayaan alam yang terkandung yakni timah. Sehingga ada harapan untuk bekerja dan mencari nafkah. Tidak hanya di sektor timah namun sektor lainnya juga.
Namun dengan adanya pengungkapan kasus mega korupsi tata niaga timah, Pulau Belitung tidak lagi seksi di mata para pendatang.
Wajar saja, dengan adanya pengungkapan kasus mega korupsi tata niaga timah harga jual timah di Pulau Belitung turun drastis.
Kondisi ini sangat dikeluhkan oleh masyarakat penambang, kondisi semakin berat apalagi menjelang Idul Fitri 1445 Hijriah kemarin. Timah murah, daya beli menurun, dampaknya perputaran uang melemah.
Kondisi ini turut dibenarkan oleh Pj Bupati Belitung, Yuspian ketika dikonfirmasi BelitongToday beberapa waktu lalu.
Menurut Yuspian, jika beranggapan bahwa selepas perayaan Idul Fitri para pendatang akan ramai berbondong-bondong datang ke Belitung adalah tidak tepat.
Hal ini dikarenakan situasi perekonomian Belitung tidak seperti dulu. Apalagi harga jual timah kala itu sedang tinggi-tingginya.
“Karena kita tahu semua bahwa Bangka Belitung masih ada kebijakan di bidang pertimahan, membuat situasi sosial ekonomi kita terkoreksi,” jelas Yuspian, Selasa 16 April lalu.
Maka dari itu, lanjut dia, fenomenanya akan berbalik, bukan para pendatang ke Belitung malah orang Belitung sendiri yang akan ke luar kota.
“Karena para pendatang yang datang menggantungkan dengan kondisi pertimahan di Belitung,” tandasnya.
Yuspian menambahkan, maka dari itu, jika ada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa di Belitung ada sebuah harapan atau peluang yang besar untuk penghidupan lebih layak adalah tidak benar. Ditambah kondisi situasi perekonomian Belitung seperti sekarang ini.
Akan tetapi, Menurut Yuspian, kondisi ini masih dinamis, pasalnya ada sejumlah agenda besar ke depannya seperti Pilkada 2024 dan pembenahan tata niaga timah.
“Ini akan ada dampak untuk berikutnya tetapi ini belum terasa sekarang karena saat ini kita masih baru mendengar kebijakan pemerintah mengalihkan timah menjadi barang tambang strategis,” jelasnya (Nazriel)







