BelitongToday, Tanjungpandan – Peringatan Hari Ibu menjadi momentum refleksi bagi dedikasi perempuan dalam sistem hukum.
Di Bapas Kelas II Tanjungpandan, sosok Dian Safitri, seorang Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Muda, menunjukkan bahwa pengabdian di balik jeruji besi menuntut keseimbangan antara ketegasan hukum dan empati kemanusiaan.
Dian Safitri, yang merupakan petugas perbantuan dari Bapas Kelas I Pangkalpinang, memegang tanggung jawab krusial dalam menyusun Penelitian Kemasyarakatan (Litmas).
Dokumen ini merupakan instrumen kunci yang menjadi dasar bagi aparat penegak hukum untuk menentukan nasib dan kebijakan terhadap warga binaan.
“Sering kali saya harus menempuh jarak jauh, bahkan pada malam hari dan di tengah hujan, untuk menemui penjamin hak integrasi warga binaan,” ujar Dian saat diwawancarai di kantor Bapas Tanjungpandan, Senin, 21 Desember 2025.
![]()
Lulusan Psikologi Universitas Brawijaya tahun 2016 ini menjelaskan bahwa tugasnya bukan sekadar urusan administratif. Ia harus menyelami latar belakang sosial, kondisi psikologis, hingga lingkungan keluarga klien secara utuh.
Menurutnya, Litmas adalah jembatan agar keadilan dapat ditegakkan secara manusiawi dan berorientasi pada pemulihan sosial.
Tantangan Peran Ganda Di samping pengabdian profesionalnya, Dian juga menjalani peran sebagai istri dari Brigadir Muhamad Imam, anggota Satreskrim Polres Belitung.
Menjadi bagian dari Bhayangkari sekaligus abdi negara menuntutnya piawai dalam menjaga komunikasi di tengah kesibukan tugas negara yang padat.
”Kami belajar saling memahami dan berusaha menjadikan rumah sebagai ruang yang tetap hangat di tengah kesibukan masing-masing,” tambahnya.
Kepala Bapas Tanjungpandan menilai sosok Dian merepresentasikan wajah perempuan Pemasyarakatan modern yang profesional dan berintegritas. Dedikasi Dian menjadi bukti bahwa di balik sistem hukum yang berjalan, ada peran perempuan tangguh yang bekerja dalam senyap demi memastikan keadilan yang bermartabat bagi setiap warga binaan. (Nazriel)
![]()







