BelitongToday, Tanjungpandan – Apabila masyarakat Belitung berkunjung ke pusat kota Tanjungpandan maka tidak asing lagi dengan Tugu Satam.
Tugu Satam ini tepat berada di tengah-tengah lima persimpangan. Dulunya kawasan ini bernama Pasar Dalam sebagai pusat pertokoan kain dan tekstil. Kios dan lapak di Pasar Dalam dulunya banyak diisi oleh warga keturunan Tionghoa.
Pada masa Bupati Belitung Darmansyah Husein (2008-2013) kawasan taman kota Tanjungpandan itu diubah menjadi kawasan Bundaran Tugu Satam.
Kemudian di seberangnya juga dibangun KV. Senang sebagai pusat kuliner dan juga kedai-kedai kopi bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung.
Akan tetapi, di masa kepemimpinan Bupati Belitung Sahani Saleh dan Isyak Meirobie periode 2018-2023 kawasan Bundaran Satam diberi nama Satam Square.
Penamaan ini melekat dengan terpasangnya huruf timbul akrilik “Satam Square” di Tugu Satam.
Penamaan Satam Square kala itu mengambil filosofi sebagai tempat berkumpulnya atau bertemunya masyarakat apalagi di kawasan itu ada lima persimpangan.
Hal ini sempat mendapatkan komentar dan ditentang oleh sejumlah tokoh masyarakat atas penamaan Tugu Satam menjadi Satam Square.
Alasannya karena nama Satam Square tidak tercantum dalam peraturan daerah. Dalam peraturan daerah Tugu Satam disebut dengan Boulevard Simpang Lima Tanjungpandan (BSLT).
Kini di era Pj Bupati Belitung Mikron Antariksa kawasan Satam Square berganti nama menjadi Bundaran Satam Belitung.
Peresmian penamaan kembali Tugu Satam ini dihadiri langsung oleh Pj Bupati Belitung, Mikron Antariksa beserta jajaran Forkopimda Belitung tepat pada, 1 Januari 2025 pukul 00.01 WIB. (Nazriel)







