Oleh: Sanggar Turnera Balansi Badau
Dikisahkan pada zaman dahulu kala, di sebuah tempat bernama Kelekak Gelanggang, hiduplah seorang gadis yang kecantikannya tersohor hingga ke kampung-kampung sekitarnya. Wajahnya ayu, tutur katanya lembut, dan sikapnya santun. Tak heran, banyak pemuda dari berbagai kelekak datang untuk melamar gadis itu, berharap dapat menjadikannya sebagai istri.

Namun, banyaknya lamaran yang datang membuat orang tua si gadis kebingungan. Mereka tidak ingin salah memilih menantu, sebab sebagian besar para pelamar dikenal sebagai pemuda berilmu tinggi dan memiliki kemampuan luar biasa. Maka, diputuskanlah satu cara untuk menentukan siapa yang paling layak mendampingi sang putri. Sebuah gelanggang dibuka, dan adu ketangkasan digelar.

Hari itu, masyarakat dari berbagai penjuru berdatangan. Di tengah lapangan, para pemuda berdiri gagah dengan rotan di tangan, siap menunjukkan keberanian dan ketangkasan mereka. Iringan bunyi gong, kelinang, dan serunai mengiringi suasana, menandai dimulainya pertarungan yang disebut “Beripat Beregong.”

Satu per satu para jagoan maju ke gelanggang. Mereka beradu cepat, saling memukul dengan rotan di punggung dan bahu, sementara irama gong terus berpadu dengan semangat para penonton. Setiap sabetan bukanlah amarah, melainkan lambang keberanian dan kehormatan.

Konon, karena sebagian besar peserta memiliki ilmu tinggi, pertarungan berlangsung seimbang. Tidak ada yang benar-benar kalah, tidak pula ada yang mengaku menang. Hanya mereka yang pulang tanpa bekas pukulan di punggung yang kemudian dinyatakan sebagai pemenang sejati, sebagai tanda ketangkasan, kesabaran, dan pengendalian diri.

Dari kisah inilah, tradisi Beripat Beregong lahir dan diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Badau Pulau Belitung. Bukan sekadar adu fisik, tetapi juga simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan di antara sesama. Irama gong dan deru rotan menjadi saksi bagaimana nilai-nilai itu terus hidup dalam setiap generasi.







