BelitongToday, Sijuk – Pelaksanaan Festival Cap Go Meh di Kelenteng Sijuk berlangsung meriah. Kelenteng Sijuk merupakan kelenteng tertua di Pulau Belitung yang dibangun pada 1815.
Ratusan lampion terpasang indah di setiap altar persembahyangan dan bangunan Kelenteng Sijuk. Hal ini tentunya menambah kemeriahan perayaan Cap Go Meh.
Cap Go Meh menandakan berakhirnya momentum Tahun Baru Imlek yang dirayakan pada hari ke-15 tahun baru Imlek.
Pj Bupati Belitung, Yuspian mengapresiasi kemeriahan perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Sijuk. Menurutnya, kegiatan ini memiliki potensi kepariwisataan yang bisa dijual kepada para wisatawan ke depannya.

“Kekhasan dari Tionghoa sangat luar biasa bukan sekedar lokal namun nilai-nilainya sangat universal bahkan mengglobal,” jelasnya, Sabtu 24 Februari 2024.
Ia menyampaikan, selain itu, perayaan Cap Go Meh melambangkan kerukunan antara dua kebudayaan besar di Belitung yakni Melayu dan Tionghoa.
Apabila dua unsur ini bersatu, lanjut Yuspian, maka Belitung akan lebih cepat mencapai kemajuannya.
“Masyarakat Belitung terbagi dalam dua kelompok besar yakni Melayu Belitung dan Chinese Belitung tentunya kalau dua unsur ini bisa bersatu padu dan bekerjasama serta saling toleransi maka akan mudah untuk mencapai tujuan pembangunan,” paparnya.
Bakal Rutin Digelar
Sementara itu, di tempat yang sama Ketua Yayasan Kelenteng Sijuk, Dedi Hernandie atau sering disapa Ationg menjelaskan bahwa perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Sijuk akan rutin digelar.
Ia yang baru tiga bulan menjabat sebagai ketua yayasan Kelenteng Sijuk mengatakan perayaan Cap Go Meh Kelenteng Sijuk ke depannya akan dikemas sebagai agenda pariwisata.
“Ya ada rencana seperti itu (agenda pariwisata, red). Persiapan acara ini juga sebenarnya mendadak dua mingguan makanya dibantu kawan-kawan saya tidak menyangka mendapatkan antusias dari masyarakat,” sebutnya. (Nazriel)







