Sementara itu, Rizali Abusama mengingatkan pentingnya menjaga martabat dan sumber daya Belitung. Ia menuturkan bagaimana dulu Belanda mencoba memanipulasi rakyat Belitung dengan narasi palsu bahwa kemerdekaan hanya berlaku di Jawa.
“Orang tua kita tak gentar, mereka kibarkan kembali bendera yang dirampas. Akibatnya, mereka ditangkap dan dipenjara,” ujar Rizali dengan nada getir.
Ia mengisahkan inisiatif Marsidi Judono yang mendorong masyarakat Belitung menyatakan dukungan tegas terhadap Republik Indonesia. Dari sinilah, perlawanan rakyat Belitung mencapai puncaknya, hingga banyak warga menjadi korban kekejaman kolonial.
Diskusi menjadi semakin hidup ketika Rizali menyebut buku Warisan Simpang Tige, karya yang ia harap dapat dibagikan luas kepada generasi muda.
Ia mengajak semua pihak untuk melihat kembali Tugu Perjuangan di Simpang Tige, Kecamatan Renggiang, Kabupaten Belitung Timur, sebuah penanda sejarah yang nyaris dilupakan.
“Di sana berdiri bukti bahwa rakyat Belitung pernah melawan ketidakadilan,” tambahnya.
Malam itu, diskusi tak hanya menghidupkan kembali lembaran sejarah, tapi juga menyulut kesadaran baru. Bahwa sejarah bukan untuk dikenang saja melainkan dijaga, dipelajari dan diwariskan.
Komunitas Diskusi 17 Belitong mungkin tampak kecil dari luar, tapi semangatnya tak bisa diremehkan. Dari ruang diskusi sederhana itu, suara-suara masa lalu kembali bergema.
Dan di tengah gempuran zaman, mereka terus menjaga nyala agar generasi mendatang tetap tahu siapa mereka dan dari mana mereka berasal. (Angga)







