Home / Belitong Opinion

Jumat, 30 Agustus 2024 - 17:17 WIB

Perahu Kater: Buah Kreatifitas Nenek Moyang Sebagai Pelaut

Perahu Kater.

Perahu Kater.

Oleh: Seli, Bidang Litbang, Tim Nusa Ekspedisi DJN Wanadri “Belitung Sea Kayak Expedition 2024”

’Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa …’’

Lirik lagu tersebut menggambarkan betapa luas dan menariknya lautan nusantara untuk ditelusuri, hal ini mengajak kita untuk mengenal juga masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir laut sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengannya disertai kebudayaan yang dimilikinya. 

Dari sekian banyaknya pulau di Nusantara ini, ada Pulau Belitong. Sebuah pulau kecil namun kaya keanekaragaman budaya dengan toleransi kuat mengakar, pulau dengan pantai cantik dan masyarakat yang dekat dengan budaya maritim.

Pulau Belitong selain terkenal dengan kandungan mineral timah terbesar di Asia Tenggara, juga keberadaan Palele atau Palilean (Cephalopachus bancanus saltator) si monyet kecil. Masyarakat Belitong ternyata juga memiliki perahu khas yang biasa digunakan untuk menangkap ikan secara tradisional, dan sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Namanya perahu Kater. Kater menurut KBBI berarti ‘sayap di kanan kiri perahu untuk menjaga keseimbangan’. 

Perahu Kater terbuat dari pohon meranti (dipterocarpaceae) yang berukuran lebih dari 60 cm. Kayu meranti menurut masyarakat Belitung Timur dinilai lebih awet dan tahan lama, selain itu dapat juga menggunakan kayu binong (Tetrameles nudiflora). Dalam proses pembuatannya setelah ditebang, pohon meranti didiamkan selama sebulan agar kayunya kering sehingga memudahkan proses pembuatannya. 

Rangka dari pohon meranti itu lalu dibentuk dengan cara dikeruk untuk menjadi perahu, kerangka perahu digabungkan menggunakan bagian – bagian lainnya sehingga menjadi sebuah perahu lengkap. Lama proses pembuatan memakan waktu selama 1 hingga 2 bulan penuh. Ada yang unik dari perahu Kater karena dikendalikan oleh satu orang saja dengan mengandalkan layar serta angin sebagai tenaga penggeraknya. Perahu Kater tradisional memang tidak memakai mesin sama sekali.

Baca Juga  Sarasehan Budaya, Pj Bupati Belitung Diskusi Bareng Tokoh Adat dan Budaya

Namun masyarakat sekitar Pantai Serdang biasanya menambahkan mesin ke dalam perahu Kater untuk semakin memudahkan pergerakan mereka dalam mencari ikan, selain itu masyarakat Pantai Serdang juga dikenal sebagai masyarakat yang handal dalam membuat maupun mengoperasikan perahu Kater. 

Menurut masyarakat setempat, perahu Kater ini lebih aman untuk digunakan mencari ikan oleh para nelayan jika dibandingkan bentuk perahu nelayan lainnya. Ketika cuaca tidak bersahabat dan ada ombak besar yang berpotensi membuat perahu terbalik. Perahu Kater tidak akan tenggelam dan akan tetap mengapung karena bantuan tangan perahu di kanan kirinya. Tangan perahu tersebut terbuat dari bambu yang membuat perahu stabil dalam mengapung serta membuat perahu lebih seimbang ketika berhadapan dengan ombak.

Bentuk haluan dan buritan perahu Kater yang memiliki struktur relatif sama, memungkinkan perahu ini bergerak maju atau mundur tanpa perlu berputar. Ini adalah salah satu kearifan dari rancangan dan bentuk-bentuk perahu di nusantara.

Sistem perahu layar perahu Kater mirip dengan perahu Bawean Madura, layar berbentuk persegi panjang dan terpasang diagonal tersebut dikenal sebagai “layar Tanjak”. Cara pemasangannya pun tanpa tiang utama, layar tanjak perahu Kater tersandar pada tiang kecil dibagian depan perahu, dibuka diagonal dengan menurunkan penggiling yang berfungsi untuk membentangkan layar. Secara keseluruhan panjang perahu Kater sekitar 642 cm.

  1. Tiang layar yang berfungsi sebagai penyangga layar
  2. Pembaun yang berfungsi sebagai mendirikan layar agar bisa berkibar
  3. Tali kelat yang berfungsi untuk memainkan layar mengikuti arah angin atau melawan arah angin
  4. Bendera yang berfungsi sebagai petunjuk arah angin yang berhembus sekaligus juga sebagai hiasan
  5. Layar Tanjak yang berfungsi untuk menangkap angin sebagai tenaga penggerak perahu
  6. Pengiling yang berfungsi sebagai penyangga agar layar bisa mengembang.
Baca Juga  Berbagai Sudut Pandang dari sebuah Kebakaran

                  Dalam perahu Kater terdapat banyak sekali komponen penunjang yang sangat berpengaruh dalam perjalanan Kater untuk mengarungi luasnya lautan yang kerap kali mengganas, berikut merupakan bagian – bagian dari perahu Kater:

  1. Cedik, umumnya sepanjang 230 cm yang berfungsi sebagai penyangga Kater.
  2. Sentang, selebar 64 cm yang berfungsi sebagai penahan kemudi.
  3. Kemudi, biasanya berukuran 167 cm yang berfungsi untuk mengemudikan perahu.
  4. Salo – salo, Lis dibagian tepi lambung perahu sepanjang 5m (sekira ¾ panjang perahu)
  5. Tempat dudukan mesin
  6. Perjung, berukuran 495 cm yang berfungsi sebagai penyangga tangan Kater
  7. Burung – burung, berukuran 30 cm berfungsi sebagai penahan tali jangkar
  8. Kerong, depan yang selebar 120 cm berfungsi sebagai pembelah air saat melaju sekaligus menjadi hiasan khas perahu Kater (di Jawa disebut Linggi)
  9. Bilah Belakang, yang berfungsi untuk membelah air saat perahu bergerak mundur berbentuk khas yang berbeda dengan kerong depan
  10. Siku – siku, yang berfungsi sebagai penyangga tangan perahu
  11. Tangan Kater, yang berfungsi sebagai penyeimbang ketika berhadapan dengan ombak
  12. Lambung, yang berfungsi sebagai tempat pengemudi dan menyimpan peralatan serta hasil tangkapannya.

Saat ini perahu Kater masih digunakan oleh nelayan untuk berlayar mencari ikan. Pemerintah setempat juga kerap mengadakan ajang perlombaan sebagai bagian rasa kepemilikan pada tradisi dan kebudayaan setempat, termasuk rasa hormat kepada nenek moyang.

Menurut Putri Selita Firdaus, tim litbang dalam ekspedisi Dayung Jelajah Nusantara Belitung 2024; “Kami tim DJN Belitung sungguh beruntung dapat melihat secara langsung warisan budaya Belitung, perahu Kater. Maka wajar adanya bila Ibu Sud mengabadikan keberanian nenek moyang kita dalam hal melaut lewat lagunya, fakta bahwa negara kita termasuk negara kepulauan. Mestinya membangkitkan pula gairah berpetualang di laut seperti nenek moyang kita.”

Share :

Baca Juga

Belitong Opinion

Sudah Matikah Etika dan Moralitas Seorang Mahasiswa ?
Pernikahan Dini

Belitong Opinion

Dampak Pernikahan Dini bagi Generasi Emas Mendatang

Belitong Opinion

‎PAD Belitung Meningkat Ditengah Daya Beli yang Melemah, HIPMI Belitung: Sangat Paradoks
Kupi Tuan Kuase

Belitong Opinion

Kupi Tuan Kuase, Menikmati Kopi Ala Tuan dan Nona Belanda
Budaya Bahasa

Belitong Opinion

Mirisnya Budaya Santun Terhadap Orang Tua karena Penerapan Bahasa Gaul yang Salah

Belitong Opinion

Sahani Saleh, dari ‘Tuk Lanun’ Hingga Pantun Bunga Teruntum di Atas Batu
Bonus Demografi Indonesia

Belitong Opinion

Bonus Demografi Menuju Indonesia Maju 2045, Dapatkan Kita Memanfaatkannya?

Belitong Opinion

Maraknya Kecanduan Judi Online di Kalangan Remaja