BelitongToday, Tanjungpandan – Pernyataan resmi dari Pertamina Patra Niaga Belitung yang mengklaim pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Belitung telah kembali normal dinilai publik tak lebih dari sekadar omong kosong.
Sebelumnya, pihak Pertamina menyampaikan bahwa pasokan BBM telah ditambah sebanyak 24 kiloliter (KL) di luar kebutuhan harian Belitung yang mencapai 242 KL per hari.
Tak hanya itu, jam operasional distribusi pun dikabarkan telah ditambah. Namun, realita di lapangan justru berbanding terbalik: BBM jenis Pertalite hingga saat ini masih sangat langka.
Antrean Panjang dan Maraknya Pengerit
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, pemandangan antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Belitung masih mengular panjang.
Masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan Pertalite.
Kondisi ini makin diperparah dengan maraknya aktivitas “pengerit” (pembeli BBM bersubsidi dalam jumlah besar untuk dijual kembali) yang memadati area SPBU.
Dampaknya, BBM eceran di tingkat pedagang jalanan melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp13.000 per liter.
Pejabat Daerah Dinilai Tutup Mata
Di tengah jeritan masyarakat yang kesulitan mendapatkan BBM, peran Pemerintah Daerah dan wakil rakyat justru dipertanyakan.
Bupati Belitung Djoni Alamsyah, Wakil Bupati, hingga para anggota DPRD Belitung dinilai tidak menunjukkan kepedulian nyata.
“Tidak pernah selangkah pun mereka turun langsung ke lapangan atau meninjau SPBU untuk memastikan akar permasalahan ini. Jadi, semua klaim penanganan ini hanya omong kosong belaka,” ujar salah satu warga yang berada di antrean.
Desakan Aksi Nyata
Masyarakat Belitung mendesak pihak-pihak terkait, baik Pertamina, aparat penegak hukum, maupun Pemerintah Kabupaten Belitung, untuk segera mengambil tindakan tegas dan nyata di lapangan.
Publik meminta agar penanganan tidak berhenti pada janji dan retorika manis di media, melainkan solusi konkret yang dapat menyelesaikan krisis BBM serta menertibkan para pengerit nakal. (TIM)
![]()







