BelitongToday, Tanjungpandan – Nasib para peternak ayam mandiri di Pulau Belitung berada di ujung tanduk.
Ketersediaan bibit ayam atau Day Old Chick (DOC) yang kian langka, dipadu dengan lonjakan harga pakan, meroketkan Harga Pokok Produksi (HPP) di tingkat peternak lokal hingga berada di level yang tidak lagi ideal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga jual daging ayam di pasaran.
Peternak mandiri tidak memiliki ruang untuk menurunkan harga jual karena terpatok tingginya biaya modal awal dan operasional.
Namun, di tengah keterbatasan ini, sebuah anomali memicu sorotan tajam.
Ketimpangan pasokan terlihat mencolok antara peternak mandiri dan peternak yang tergabung dalam kemitraan perusahaan.
Ketua Aliansi Peternak Ayam Mandiri Belitung, Yahya, mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakadilan distribusi bibit yang dirasakan para peternak lokal saat ini.
“Kondisinya sangat miris. Ketika kami peternak mandiri setengah mati mencari pasokan bibit DOC, peternak mitra perusahaan salah satunya PT SMS justru sangat mudah mendapatkannya. Bibit masuk setiap hari ke kandang-kandang kemitraan mereka,” tegas Yahya, Kamis 20 Agustus 2026.
Menurut Yahya, kondisi ini memicu persaingan usaha yang tidak sehat dan cenderung mengarah pada praktik monopoli pasar.
Saat masa panen tiba, perbedaan volume pasokan antara peternak mandiri dan mitra perusahaan terlihat amat jomplang.
”Setiap kali panen, terjadi ketimpangan yang sangat jauh. Yang lebih memukul kami, harga jual ayam dari mitra perusahaan selalu dipatok jauh di bawah HPP peternak mandiri. Ini jelas aksi monopoli dan persaingan yang tidak sehat yang perlahan membunuh mata pencaharian peternak lokal,” pungkasnya.
Para peternak mandiri kini berharap ada langkah nyata dan intervensi dari pemerintah daerah serta pihak berwenang untuk menata kembali regulasi distribusi DOC dan pakan, guna menjamin iklim usaha yang adil di Belitung. (Nazriel Semesta)
![]()







