BelitongToday, Sijuk – Di tengah terik matahari yang menyengat dan kabut asap yang menyesakkan dada, sosok Rukma berdiri kukuh dengan selang pemadam di tangannya.
Warga Desa Batu Itam ini memilih untuk tidak berpangku tangan saat melihat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melahap wilayah Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Senin 24 Agustus 2025.
Hatinya terketuk. Bagi Rukma, kondisi kemarau panjang yang memicu karhutla bukan sekadar bencana biasa, melainkan ancaman serius yang membutuhkan aksi nyata.
Dorongan kepedulian terhadap lingkungan itulah yang menggerakkan langkahnya untuk terjun langsung menjadi relawan.
”Ini sudah jadi tanggung jawab moral saya. Asap, abu, dan panasnya matahari bukan penghalang kalau melihat lingkungan kita terancam,” ungkap Rukma di sela-sela perjuangannya menembus titik api.
Sejak Jumat 22 Agustus 2026 lalu, kobaran api di wilayah Keciput memang tak kunjung padam penuh dan membutuhkan penanganan ekstra.
Rukma bahu-membahu menembus medan sulit bersama tim gabungan yang terdiri dari Tim Damkar BPBD Kabupaten Belitung, Tim Batalyon TP 845/Ksatria Satam, Kodim 0414/Belitung, dan personel dari KEK Tanjung Kelayang.
Sebanyak 30 personel gabungan dikerahkan ke lokasi untuk menjinakkan Si Jago Merah.
Sinergi antara aparat, pengelola kawasan, dan warga lokal seperti Rukma menjadi titik terang di tengah kepulan asap yang melingkupi Sijuk.
Semangat dan ketangguhan Rukma membuktikan bahwa penyelamatan lingkungan bukan hanya tugas aparat, melainkan panggilan jiwa bagi siapa saja yang peduli pada bumi Belitung. (Nazriel Semesta)
![]()







