BelitongToday, Tanjungpandan – Matahari Jumat (23/10) pagi baru saja merambat naik di atas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjungpandan.
Dari balik tembok-tembok tinggi berlapis kawat duri, cuaca tampak begitu cerah sebuah kecerahan yang belakangan justru membawa kecemasan bagi warga di Pulau Belitung akibat terik dan ancaman kekeringan yang tak kunjung usai.
Namun, di tengah hamparan tanah rumput lapangan dalam lapas jam 07.00 WIB itu, tidak ada keluh kesah.
Yang ada hanyalah barisan shaf yang rapi. Ratusan orang mulai dari jajaran pegawai, peserta Maganghub, hingga para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berdiri sejajar, menanggalkan batas status sosial, untuk satu tujuan ikhtiar spiritual: melaksanakan Salat Istisqa.
Dengan pakaian serba putih dan busana muslim bersahaja, seluruh peserta menundukkan kepala. Di bawah langit Belitung yang haus akan siraman air, mereka bersatu dalam khusyuk, mengetuk pintu langit memohon rahmat penyejuk bumi.
Ikhtiar Spiritual di Tengah Kemarau
Ancaman kekeringan yang melanda kawasan Belitung beberapa waktu terakhir memang menjadi perhatian bersama. Sumber-sumber air kian menyusut, debu-debu beterbangan, dan warga menanti dengan cemas datangnya tanda-tanda hujan.
Bagi Lapas Tanjungpandan, kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis ketersediaan air, melainkan panggil nurani untuk mengetuk pintu ampunan Sang Pencipta.
Kepala Lapas Kelas IIB Tanjungpandan, M. Rolan, mengungkapkan bahwa gerakan doa bersama ini hadir dari rasa kepedulian mendalam terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat luas.
”Kita menyadari bahwa selain melakukan berbagai upaya nyata, doa adalah bagian yang sangat penting dari ikhtiar. Melalui Salat Istisqa ini, kita memohon agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan, mengangkat kesulitan, serta menjaga Bumi Belitung beserta seluruh masyarakatnya,” tutur M. Rolan di sela kegiatan, Jumat 22 Oktober 2026.
![]()







