Introspeksi dan Bisikan Doa di Atas Sajadah
Suasana haru begitu terasa saat Ustadz Bustamin.naik memimpin jalannya salat dan menyampaikan khotbah.
Suaranya yang tenang membelah keheningan pagi, mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istigfar, menundukkan kesombongan, serta melakukan introspeksi diri.
Bagi para warga binaan, momen ini terasa begitu berbeda. Di balik ujian hidup yang tengah mereka jalani di dalam jeruji, ada rasa keterpanggilan yang sama: rasa rindu akan hujan dan kerinduan untuk bermanfaat bagi tanah yang mereka pijak.
”Melalui salat ini, mari kita memohon dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Semoga Allah SWT memberikan kecukupan air, keselamatan, dan rahmat bagi kita semua,” ajak Bustamin dalam bait-bait khotbahnya yang menyentuh sanubari.
Saat doa dipanjatkan, tak sedikit jamaah yang menengadahkan telapak tangan dengan mata berbalik sayu, meresapi setiap bait permohonan agar bumi kembali basah dan subur.
Lebih dari Sekadar Salat: Menyemai Jiwa di Balik Jeruji
Pelaksanaan Salat Istisqa di Lapas Tanjungpandan ini membuktikan bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada ketrampilan fisik, tetapi juga sentuhan rohani. Kegiatan ini menjadi wahana pembinaan kepribadian yang menumbuhkan nilai kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial.
Keterlibatan aktif antara petugas dan warga binaan memperlihatkan hangatnya kebersamaan sebagai satu keluarga besar. Di lapangan tersebut, sekat-sekat itu runtuh; yang tersisa hanyalah kepasrahan hamba yang membutuhkan pertolongan Tuhannya.
Seiring berlalunya pagi dan usainya rangkaian ibadah, harapan itu kini tergantung di langit Belitung. Dari balik dinding-dinding kokoh pemasyarakatan, doa tulus telah dilayangkan. Sebuah ikhtiar sederhana, namun penuh makna, agar gerimis dan hujan lebat segera turun membasahi dahaga Bumi Belitung, membawa keberkahan dan keselamatan bagi seluruh penghuninya. (Nazriel Semesta/Rel)
![]()







