BelitongToday, Tanjungpandan – Belitung Chinese International Festival (BCIF) Tahun 2024 secara resmi ditutup, di Bundaran Satam, Tanjungpandan, Minggu 31 Maret 2024
Acara yang bertajuk “Diversity in Harmony” berlangsung mulai 9 Maret sampai 4 April mendatang.
Closing Ceremony BCIF 2024 merupakan malam puncak dalam kegiatan tersebut dengan menghadirkan berbagai dengan beragam penampilan seni dan fashion show yang memukau serta atraksi budaya dan pengumuman pemenang rangkain lomba selama BCIF berlangsung.
Diakhiri dengan penampilan menawan Tari Chengbeng dan penutupan yang meriah dengan Closing Dance Belitung Chinese International Festival, Malam Puncak BCIF 2024 sukses menyuguhkan hiburan bagi seluruh penonton yang hadir.
Acara turut dihadiri oleh Deputi Event Internasional dan Nasional Kemenparekraf RI, Fransiskus Andoko beserta tamu lainnya.
Pj Bupati Belitung Yuspian mengatakan, agenda BCIF merupakan hal yang baru dan pertama kali dilakukan di Pulau Belitung.
Sebab kegiatan ini memiliki potensi yang besar terutama dari sisi ekonomi.
“Kami dapat laporan selama event ini terjadi pembelian properti sembayang kubur ada 5000 unit, artinya sudah 5000 makam dari keluarga yang sudah hadir disini, dan kita belum tau keluarga mereka berapa banyak yang datang,” kata Yuspian.
Menurut Yuspian, kagiatan bazar UMKM di BCIF hampir mencapai Rp 1 Milliar pada Sabtu 30 Maret 2024, tentu mereka optimis bisa tercapai karena masih ada beberapa hari pelaksanaan.
“Itu sesuai target yang kita inginkan, dan hal ini sangat membahagiakan kita,” sebutnya.
Yuspian menyebutkan, pertumbuhan ekonomi itu terjadi di event BCIF 2024 itu, sehingga ada uang dari luar yang masuk ke Belitung.
Selain itu, ada kenaikan okupansi hotel berdasarkan laporan beberapa pihak hotel. Meskipun belum merata pada semua hotel.
Lalu, promosi daerah Belitung juga dapat tertuang dalam event itu, dan keragaman budaya karena Belitung memiliki keragaman budaya, apalagi Belitung memiliki nilai toleransi yang sangat tinggi.
“Itu syarat mutlak kalau pariwisata mau tumbuh, tanpa ada toleransi, inklusi terhadap keberagaman itu tidak mungkin daerah ini bisa maju menuju pertumbuhan yang baik, apalagi mau menjual pariwisata,” tandasnya. (Adoy)







