Awak media turun ke beberapa titik kecamatan, untuk melihat dan mendengar langsung seperti apa fakta-fakta di lapangan agar bisa disampaikan secara luas kepada seluruh pemangku jabatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
AD, salah satu warga yang ada di Kecamatan Membalong menginformasikan kami, warga kecillah yang menjadi korban apabila kolektor timah dan meja goyang akan berhenti beroperasi.
“Kami menambang mengunakan alat yang paling sederhana serta paling murah, cukup menyiapkan mesin robin kapasitas 7 PK sudah bisa bekerja, bahan bakar 5 Sampai 10 liter bisa kerja dari pagi sampai sore. Apabila memang benar kolektor berhenti membeli timah, kami lah yang akan menderita terkait kemana akan menjual pasir timah yang kami dapatkan, selama ini kami sangat terbantu dengan aktifitas meja goyang dalam hal pembelian pasir timah, saya berharap kepada seluruh pejabat-pejabat agar sesegera mungkin carikan solusi dikarenakan anak-anak kami butuh kehidupan serta pendidikan yang layak” harapnya, Selama 17 September 2024.
Selain itu, WT seorang perempuan setengah baya membawa mangkok berwarna hijau kecil yang berisi timah berkisar 4 kiloan ikut bercerita.
“Ini hasil saya melimbang/mengambil timah dari ujung sakan selama 3 hari kemarin, sudah kurang lebih empat desa saya lalui untuk mencari meja goyang yang buka, alhamdulilah belum ketemu meja buka bang,” ujarnya sedih.
WT yang merupakan warga dusun aik malik lanjut bercerita kenapa bisa seperti ini kondisi pertimahan sekarang.
“Timah dalam mangkok inilah harapan satu satunya untuk membeli beras serta lauk untuk makan Sekeluarga,” ungkapnya lirih.







