BelitongToday, Tanjungpandan – Pj Bupati Belitung, Yuspian menghadiri kegiatan simbolis pembukaan Belitong Chinese Internasional Festival 2024.
Acara berlangsung di salah satu pendopo di perkuburan warga Tionghoa di Desa Pilang, Tanjungpandan, Jumat 1 Maret 2024.
Dalam kesempatan tersebut, Pj Bupati Belitung Yuspian menerima sapu lidi dan parang dari ketua panitia Belitung Chinese Internasional Festival 2024, Ayie Gardiansyah dan Ketua Yayasan Budi Bakti, Hendri Haryono.
Sapu lidi dan parang tersebut sebagai simbol menandakan dimulainya kegiatan Belitung Chinese Internasional Festival 2024. Parang dan sapu lidi tersebut sebagai simbol aksi bersih-bersih.
Biasanya warga Tionghoa di Belitung akan melaksanakan kegiatan bersih-bersih di perkuburan leluhur atau “cuci kubur” sebelum melaksanakan kegiatan Cheng Beng.
“Meskipun pembukaan acara ini secara simbolik di sini namun tidak mengurangi makna kemeriahan pelaksanaan Belitung Chinese Internasional Festival 2024,” kata Pj Bupati Belitung Yuspian dalam sambutannya, Jumat 1 Maret 2024.
Ia menerangkan, tujuan kegiatan Belitung Chinese Internasional Festival 2024 adalah untuk memulihkan kondisi kepariwisataan di Belitung.
Hal ini bertepatan dengan momentum perayaan Cheng Beng atau sembahyang kubur. Untuk itu, Belitung Chinese Internasional Festival 2024 adalah untuk menangkap peluang tersebut.
“Potensi ekonomi sangat luar biasa bapak ibu, di Belitung ada 11 ribu makam Tionghoa dan setengahnya masih aktif diziarahi oleh para keluarga,” ungkapnya.
Yuspian menjelaskan, pada waktu menggagas acara Belitung Chinese Internasional Festival 2024 pihaknya telah bertemu dengan perwakilan tokoh masyarakat Tionghoa dan Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung untuk meminta masukan serta saran pendapat.
“Saya sebagai putra Belitung asli dan paham bahwa tidak ada isu SARA di Belitung karena saya sejak kecil sudah berteman dengan rekan-rekan Tionghoa jadi tidak ada persoalan SARA,” imbuhnya.
Ia menjelaskan pula, BCIF 2024 sebenarnya sudah lama terbesit di dalam benaknya meskipun belum bisa merealisasikan karena belum menjadi Pj Bupati Belitung.
“Ide ini awalnya adalah ketika saya tugas di Kelapa Kampit pada saat Cheng Beng banyak warga keturunan Tionghoa yang datang untuk berziarah dengan rela dan militan pulang ke Kelapa Kampit berziarah ke makam leluhur. Mereka rela tidur di mess Kelapa Kampit sampai 15 orang di dalam satu kamar,” paparnya.
Oleh karena itu, pihaknya menilai kegiatan ini memiliki potensi yang sangat luar biasa sehingga akan dikemas dengan sebaik mungkin.
“Potensinya salah satu adalah akan banyak peziarah yang pulang ke Belitung demi berziarah. Fenomena ini penting di tengah kondisi pariwisata kita yang sangat lesu sekarang ini,” tutup Yuspian. (Nazriel)







