Home / Belitong Humanities

Selasa, 20 Juni 2023 - 14:03 WIB

Jurnalis di Pangkalpinang Mendapat Intimidasi Ketika Liput Jebolnya Plafon Transmart Pangkalpinang

Tiga orang jurnalis yang mendapatkan tindakan intimidasi ketika meliput robohnya plafon Transmart Pangkalpinang melapor ke SPKT Polres Pangkalpinang, Senin (19/6) kemarin.

Tiga orang jurnalis yang mendapatkan tindakan intimidasi ketika meliput robohnya plafon Transmart Pangkalpinang melapor ke SPKT Polres Pangkalpinang, Senin (19/6) kemarin.

BelitongToday, Pangkalpinang – Tiga orang jurnalis di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mendapatkan intimidasi saat meliput peristiwa jebolnya plafon di gedung Transmart Pangkalpinang.

Perlakuan intimidasi tersebut mereka dapat dari oknum satpam Transmart Pangkalpinang.

Ketiga jurnalis tersebut adalah Eji Andino Dika (TVRI Bangka Belitung), Rama Nuasa (HeloBerita), dan Arya Ramandanu (Laspela).

Peristiwa itu terjadi pada Senin (19/6) pukul 13.38 WIB. Berawal dari ketiga jurnalis tersebut mendapatkan informasi adanya peristiwa plafon Transmart Pangkalpinang yang ambruk.

“Kami bertiga dapat informasi ada plafon ambruk akibat jebolnya saluran air di Transmart lantai atas. Kedua rekan saya Eji dan Rama sudah sampai duluan,” kata Arya.

Menurutnya, kedua rekannya masuk bersamaan dengan pihak Polsek Gerunggang, Pangkalpinang. Arya pun berinisiatif meminta izin untuk masuk ke satpam Transmart Pangkalpinang tersebut.

“Saya datang telat. Lalu saya minta izin ke satpam untuk mengambil gambar ke area dalam atau lokasi ambruknya plafon, namun tidak mendapat izin. Saya disuruh menunggu di lobi,” bebernya.

Setelah menunggu di lobi, tidak berselang lama, ia menjelaskan, kedua rekannya (Eji dan Rama) keluar dengan satpam mendampingi.

Baca Juga  Angkat Bubu dari Dasar Lautan, Nelayan di Belitung Timur Kaget Temukan Puing Helikopter Polri

Ada dugaan mereka disuruh keluar oleh oknum satpam tersebut.

“Saya lihat keduanya mengambil gambar seperti biasa. Lalu digiring keluar oleh satpam untuk keluar. Setelah keluar kita terlibat perdebatan. Mereka meminta mengecek handphone Eji agar menunjukan hasil rekaman dan meminta menghapus videonya dengan nada tinggi,” tegasnya.

Kedua jurnalis tersebut tetap bersikukuh tidak akan menghapus video liputan tersebut.

“Awalnya kami tidak akan hapus. Terus kami minta syarat yaitu boleh foto kami hapus tapi dengan syarat meminta bertemu dengan atasan atau yang berwenang memberi keterangan,” timpalnya.

Lanjut dia, oknum satpam tersebut tidak menggubris permintaan mereka, dan tetap minta harus menghapus segala rekaman baik foto maupun video.

Oknum Satpam Memaksa

Oknum satpam tersebut dengan nada tinggi memaksa meminta video liputan tersebut. Akhirnya Eji pemilik video menyerahkan dan merelakan hasil liputannya kepada oknum satpam tersebut.

“Handphone Eji kasih, lalu satpam itu menghapus seluruh video. Satpam meminta agar mereka (jurnalis) tidak meminta konfirmasi kepada pihak Transmart hingga mereka memberikan klarifikasi sendiri atas insiden yang terjadi,” tambahnya.

Baca Juga  Penuh Haru dan Isak Tangis, WBP Lapas Tanjungpandan Basuh Kaki Ibu

Atas kejadian tersebut tiga jurnalis melaporkan kasus itu ke Mapolresta Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Undang-Undang Melindungi Kerja Jurnalistik

Sementara Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Babel, Joko Setyawanto yang turut mendampingi pelaporan itu menjelaskan kejadian menghalangi kerja-kerja jurnalistik seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi di tengah era digital ini.

Hal ini apalagi terjadi di perusahaan besar yang outletnya tersebat di seluruh Indonesia.

“Kok primitif sekali polanya, segala sesuatu harus dengan kekerasan, intimidasi, atau persekusi. Apa hanya karena ada aturan perusahaan terus bisa mengangkangi aturan negara? Kerja jurnalistik ada koridornya, ada payung hukumnya berupa Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami prihatin atas nasib yang menjalankan tugas ini, tapi apakah tidak pernah belajar dari banyak peristiwa serupa yang pernah terjadi. Harusnya bisa jadi pembelajaran, ada aturan yang lebih tinggi dari aturan perusahaan, yaitu aturan negara berupa konstitusi undang-undang,” tegas Joko.

Joko menambahkan, pihaknya berharap agar kepolisian dapat menyelesaikan perkara ini agar tidak menjadi preseden buruk bagi kemerdekaan pers di Tanah Air. (Tim/Rel)

https://youtu.be/oZ_LFV5uFmE

Share :

Baca Juga

Belitong Humanities

‎Tabung Gas 3 Kg Bocor, Warung Makan di Simpang Perumnas Terbakar, Damkar Sigap Jinakkan Api

Belitong Humanities

Cegah Paham Radikal dan Terorisme, Pemkab Beltim dan Densus 88 Anti Teror Gelar Rakor

Belitong Humanities

Kebakaran Rumah Warga di Jalan Hasan Saie Simpang Kerjan, Damkar Belitung Gerak Cepat Jinakkan Si Jago Merah
Seleksi PPPK

Belitong Humanities

Ini Jam Kerja ASN di Belitung Selama Ramadhan, Masuk Pukul 08.00 WIB Pulang Pukul 15.00 WIB
Lelang JPT belitung

Belitong Humanities

Sekda Belitung: Peserta Lelang JPT Wajib Tulis dan Paparkan Karya Tulis
Bupati Belitung Timur, Burhanudin

Belitong Humanities

Indra Ramadhan Wakili Indonesia di Ajang IOAA 2023, Bupati Belitung Timur Mengaku Bangga
Diskusi Pemuda

Belitong Humanities

Hadiri Ramah Tamah dan Diskusi Pemuda, Sanem Berharap Pemuda Menjadi Aktor Perubahan
Hari Santri 2023

Belitong Humanities

Jadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Santri 2023, Sanem Minta Santri Kuat Rohani dan Jasmani