Ia menyebutkan, untuk saat ini jika berbicara tentang sustainable tourism maka akan ada tabrakan secara umum.
“Sebab Pariwisata ingin mendatangkan banyak orang. Sementara sustainable tourism membatasi orang untuk melestarikan alam,” imbuhnya.
Akan tetapi, Ledia mengatakan, Pulau Belitung sudah masuk Unesco Global Geopark dan konsep sustainability harus tetap menjadi unggula.
“Geosite ini (Bukit Peramun, red) katanya dari ratusan juta tahun lalu, ada keanekaragaman hayati dan budaya, ini jadi daya pikat Belitung,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie mengatakan pihaknya kesulitan dalam mengembangkan pariwisata karena dari sisi APBD sudah 40 persen habis untuk kesehatan dan pendidikan.
Menurut dia, selama bumi Belitung ini masih mengandung timah dan mineral lainnya opsi ekonomi ini masih menjadi kendala bagi Belitung.
“Berbeda dengan Bali yang tidak ada tambang, jika tidak ada wisata mereka tidak makan,” tuturnya.
Ia mencontohkan, ketika pandemi Covid-19 masyarakat dengan mudah kembali ke tambang.
“Ini dilemanya, ekonomi Belitung bisa bertahan saat pandemi karena tambang, tapi merusak wisata,” tandasnya. (Angga)







