BelitongToday, Tanjungpandan – Dampak ganda musim kemarau panjang kian meluas dan terasa di Kabupaten Belitung.
Selain ancaman krisis pasokan air bersih akibat penurunan debit, kualitas udara yang sebelumnya berada pada kategori baik (zona hijau) kini merosot ke status sedang (zona kuning/moderate).
Merosotnya kualitas udara ini dikonfirmasi oleh Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Belitung, Lutfi Avian.
Ia mengungkapkan bahwa perubahan status tersebut terjadi hampir merata di seluruh kecamatan dalam satu hingga dua pekan terakhir.
Berdasarkan pemantauan melalui sejumlah aplikasi dan instrumen kualitas udara, penurunan ini dipicu oleh meningkatnya konsentrasi partikulat halus (PM2.5). Nilai PM2.5 yang semula berada di kisaran aman (8–25) kini melonjak hingga melampaui angka 50.
“Peningkatan PM2.5 dipengaruhi cuaca yang sangat panas, meningkatnya debu, serta munculnya sejumlah titik kebakaran lahan dan pembakaran sampah,” ujar Lutfi.
Ia menambahkan, kondisi vegetasi dan rumput yang mengering akibat terik panjang membuat lingkungan menjadi jauh lebih rentan tersulut api.
Meningkatnya kadar debu dan partikel halus di udara berpotensi memicu masalah kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menanggapi kondisi ini, DLH mengimbau masyarakat—terutama pengendara sepeda motor dan warga yang sering beraktivitas di luar ruangan—untuk kembali menggunakan masker demi perlindungan diri.
Guna mencegah memburuknya kualitas udara dan risiko kebakaran, DLH menegaskan beberapa imbauan kepada masyarakat:
Dilarang membakar sampah maupun membuka lahan pertanian/perkebunan dengan cara dibakar.
Tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area rumput kering.
Menghemat penggunaan air bersih untuk menjaga ketersediaan pasokan selama musim kemarau.
Di sisi lain, sektor pasokan air juga mengalami dampak serius. Hasil pemantauan lapangan menunjukkan adanya penyusutan debit air yang signifikan pada sejumlah sumber air baku, aliran sungai, hingga kolam penampungan (kulong/embung).
Kedalaman air di fasilitas penampungan dilaporkan telah berkurang sekitar 40 hingga 50 centimeter dari batas normal akibat terik kemarau.
“Masyarakat diharapkan dapat membatasi penggunaan air bersih dan menghemat pemakaian air agar persediaan tetap mencukupi selama musim kemarau,” pungkas Lutfi. (Adoy)
![]()







