Tarawih Iya, Cari Cewek Iya
Saat itu, biasanya di malam-malam awal Ramadan aku begitu rajin ke masjid. Bukan karena ingin mendapat keberkahan karena Salat Isya berjamaah kemudian Salat Tarawih dilanjutkan Witir. Tapi, karena mengejar cewek-cewek yang Salat Tarawih. Bulan Ramadan menjadi satu-satunya kesempatan melihat mereka yang rajin salat. Sempurna bukan? Cantik dan solehah, perpaduan yang diinginkan hampir semua jejaka muslim. Bagi aku, plus kepintaran, karena berdasarkan riset, kepintaran anak berasal dari DNA ibunya. Yaa, untuk memperbaiki keturunan. Bahkan, aku sampai ikut remaja masjid ketika itu.
Lagi-lagi, kepergianku ke masjid bukan karena Allah. Jika ketika SMP aku berangkat Tarawih karena janjian dengan teman-teman sekomplek untuk Salat Isya kemudian meninggalkan Tarawih untuk kemudian perang-perangan memakai petasan. Ketika SMA modusnya berubah, mencari cewek-cewek. Tetap saja bukan karena Allah. Astaghfirullah.
Walaupun demikian, bahkan ketika di masa SMA ku sampai ikut remaja masjid, aku tidak pernah sampai 30 hari full melaksanakan Tarawih di masjid. Begitu pula remaja masjid yang lain. Seperti kebanyakan anak muda Bandung, di malam-malam terakhir kami menenggelamkan diri di lautan manusia di BIP, Plaza Parahyangan, BSM, atau mall lainnnya di Bandung.
Dua pemuda yang kuceritakan di atas. Memilih Salat Tarawih daripada main ke luar. Padahal, ini hari minggu. Alih-alih berperang sarung diisi batu dan ditangkap polisi seperti beberapa kelompok anak muda lain di Belitung, mereka malah sibuk menunaikan Salat Tarawih. Ketika menguping pembicaraan mereka saat aku berada di belakang mereka, memang obrolan mereka masih seputar game online: karakter-karakter di Mobile Legend. Tipikal anak zaman sekarang. Namun, mereka tidak melupakan kewajiban memakmurkan masjid di Bulan Ramadan. Sesuatu yang berat aku laksanakan ketika di usia mereka. Khususnya di malam-malam terakhir Ramadan.
Sehingga, ketika aku melihat dua pemuda ini Salat Tarawih di malam ke 26 Ramadhan. Dalam hati aku berkata: Masyaallah. Sungguh bangganya orangtua kedua anak ini. Allahuma Sholi Alaa Sayidina Muhammad. Wa ala ali sayidina Muhammad. Aku berdoa supaya anak-anakku kelak bisa menyamai mereka salehnya, bahkan bisa melebihi mereka. Aamiin.







