Tarawih Tidak, Petasan Iya
Tulisanku ini bukan untuk menghakimi siapapun, baik yang Salat Tarawih di rumah maupun di masjid. Baik yang berbelanja saat siang ataupun malam. Itu preferensi masing-masing. Tulisan ini sebenarnya berangkat dari kekagumanku pada dua pemuda tanggung, sekitar umur 15-17 tahun. Mereka mengikuti Salat Tarawih sampai selesai. Ini hal yang cukup membanggakan bagiku.
Maklum, ketika aku seusia mereka, bahkan ketika sampai lulus kuliahpun, sangat jarang sekali aku Salat Tarawih sampai malam ke 26. Biasanya, malam ke 20 sudah menyerah, larut dengan berbagai tontonan di TV, tenggelam dengan game, atau bahkan bergabung dengan lautan manusia di pusat perbelanjaan yang memburu diskon dan harga murah demi beberapa setel pakaian baru. Seperti tidak ada hari lain untuk membeli baju.
Padahal, kita disunahkan memakai pakaian terbaik, bukan pakaian terbaru. “Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak).
Bahkan ketika usiaku masih 13-15 tahun, usia SMP. Tarawih hanya menjadi alasan kepada orangtua agar boleh keluar malam hari. Sesampainya di masjid, aku hanya Salat Isya, karena itu yang wajib. Setelah itu, berhamburanlah kami ke luar masjid. Mengeluarkan berbagai petasan yang kami beli sepulang sekolah, berkejar-kejaran sambil mengganggu cewek-cewek yang lewat. Tipikal kenakalan anak SMP.
Beranjak dari umur 15 sampai 17. Di masa SMA, sudah jarang main petasan, karena malu sama cewek-cewek komplek. Sebenarnya masih ada rasa ingin meledakkan petasan, tapi rasa itu kalah oleh rasa jaim. Namun, tidak meledakkan petasan bukan berarti menjadi rajin Salat Tarawih.







