BelitongToday, Tanjungpandan – Istri Presiden ke-4 Republik Indonesia, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyerahkan bantuan kepada warga di Desa Air Merbau, Tanjungpandan, Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (26/5) sore.
Sinta Nuriyah menyerahkan bantuan secara simbolis dari alumni TM-70 Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paguyuban Sekar Melati. Turut hadir, Poernomo Yusgiantoro, Mantan Menteri ESDM yang juga merupakan alumni Teknik Perminyakan ITB.
TM-70 merupakan ikatan alumni sarjana Teknik Perminyakan ITB tahun 1970.
Sedangkan Paguyuban Sekar Melati merupakan para istri mantan menteri dan pejabat eksekutif Kabinet Persatuan Nasional pada era Presiden Gusdur (1999-2001).
Sinta Nuriyah Wahid dalam sambutannya mengatakan sangat tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan masyarakat Desa Air Merbau.
“Bapak dan ibu sekalian pertemuan ini adalah tidak tersangka dan terduga sebelumnya saya bisa datang ke Belitung ini,” ucapnya.
Ia menjelaskan, sebenarnya ia bukan baru pertama kali datang ke Belitung. Kunjungan kali ini merupakan kunjungan keduanya ke Kabupaten Belitung.
“Ini adalah kali kedua saya ke Belitung, sebelumnya ke Bangka juga sudah pernah,” jelasnya.
Menurutnya, selama mendampingi Gus Dur sebagai Presiden, ia sering melakukan kegiatan buka puasa bersama kaum dhuafa dan marjinal.
“Yang saya lakukan sejak mendampingi Gus Dur di Istana Negara dulu sewaktu menjadi Presiden yaitu sering sahur dan buka puasa bersama kaum marjinal,” imbuhnya.
Ia menambahkan, kegiatan semacam itu juga sering ia lakukan di berbagai wilayah di Indonesia.
“Kegiatan itu saya lakukan sampai ke pelosok wilayah seluruh Indonesia. Saya mengajak semua komponen bangsa untuk melakukan sahur bersama,” paparnya.
Bangga dengan Toleransi di Belitung
Dalam pertemuan tersebut, istri Almarhum Gus Dur ini juga sempat menanyakan suku yang ada di Belitung.
Pertanyaan Shinta tersebut langsung dijawab oleh Bupati Belitung, Sahani Saleh bahwa seluruh suku bangsa di Indonesia ada dan mendiami Pulau Belitung.
“Saya senang semua suku ada di Belitung toleransi di Belitung bagus,” ungkapnya.
Menurutnya, hal ini tidak terlepas bahwa memang bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa dan agama.
“Kita adalah satu nasu, satu bangsa, dan satu bahasa,” paparnya. (Nazriel)







