BelitongToday, Tanjungpandan – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus anggota Panitia Khusus Tata Kelola dan Tata Niaga Timah DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Syarifah Ameliah angkat bicara soal tata kelola dan tata niaga timah di Negeri Serumpun Sebalai.
Hal ini disampaikan Amel sapaan akrabnya dalam kegiatan reses di Sekretariat Komunitas Diskusi 17 Belitung, jalan Air Serkuk, Desa Air Saga, Tanjungpandan, Sabtu 17 Mei 2025 kemarin.
Menurut Amel, memang mau tidak mau perekonomian Bangka Belitung sepenuhnya masih bergantung dengan timah.
Amel bilang persoalan timah di Bangka Belitung ini sudah viral dengan adanya kasus korupsi tata niaga timah sebesar Rp271 triliun lalu termasuk di dalamnya menyangkut soal kerugian lingkungan (ekologis).
“Hal ini disebabkan oleh miss tata kelola atau tata kelola yang tidak berkelanjutan sehingga banyak kerusakan lingkungan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” tandasnya.
Berangkat dari persoalan ini, Amel melanjutkan, Pansus Tata Kelola dan Tata Niaga Timah DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki inisiatif sekaligus mendapatkan masukan atau aspirasi untuk membentuk satgas penegakan hukum terhadap tindak pidana kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Menurutnya, kerusakan lingkungan di Negeri Serumpun Sebalai salah satu kontributor nyatanya adalah dari aktivitas tambang bijih timah.
“Masa masyarakat Bangka Belitung sudah dapat kerusakan lingkungan terus kita yang masih menanggungnya, sedangkan kita tidak optimal dapat keuntungan dari penambangan timah, kalau lingkungan kita rusak, yang akan menanggungnya siapa,” beber Amel.
Ia melanjutkan, di sisi lain, kerusakan lingkungan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga disebabkan oleh sektor lain misalnya pengelolaan hutan yang tidak bertanggungjawab seperti adanya industri perkebunan kelapa sawit yang diluar HGU atau terkait kerusakan lingkungan hutan (deforestasi) dan juga keberadaan tambak udang karena ada pencemaran lingkungan yang ditimbulkan.
Meskipun demikian, Amel menanggapi bahwa timah saat ini masih menjadi harapan sekaligus penggerak roda perekonomian masyarakat Belitung.
“Kita juga tidak bisa terus menerus tidak mempertahankan kerusakan lingkungan kita, karena kita bicara keberlanjutan, untuk saat ini mau tidak mau kita harus mempertahankan timah namun ke depannya kita harus mulai melihat potensi di luar timah,” beber Syarifah Ameliah.







