Bangun Hilirisasi
Maka dari itu, Amel melanjutkan sudah saatnya Bangka Belitung membangun industri hilirisasi timah. Pengelolaan komoditi timah harus dilakukan di dalam daerah bukan luar daerah.
“Kami berharap agar pengelolaan timah itu tidak keluar dari Bangka Belitung, kita harus ada satu branding, salah satunya jalan untuk bikin branding adalah salah satunya timah itu diolah di sini (Bangka Belitung) dulu, diolah jadi bahan setengah jadi di sini,” terangnya.
Selama ini, kata Amel, PT. Timah sekarang masih mengolah timahnya di Cilegon dan Batam.
“Kami juga mengarahkan untuk bargaining dengan PT Timah atau investor lain di luar PT Timah yang bisa membuat industri pengolahan timah di Bangka Belitung,” harapnya.
Ketika disinggung apakah industri hilirisasi timah bisa hadir di Babel, Amel menjawab bisa tentunya dengan melihat potensi lokasi-lokasi misalanya di Belitung ada kawasan industri Suge, di Belitung Timur ada kawasan industri Air Kelik, di Bangka ada kawasan industri Sadai.
“Untuk Belitung ini ada titik menangnya, ada titik labuh Internasional Maritim Organization di Belitung Timur, hilirisasi timah bukan harapan namun hal yang harus diperjuangkan,” bebernya.
Untuk itulah, Pansus Tata Niaga dan Tata Kelola Timah DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan membenahi tata niaga timah dari hulu sampai hilir.
“Sekarang akan kami rapikan mulai dari hulu kita bicara soal tata guna lahan misalnya peta dimana ada potensi di situlah akan dikeluarkan izin, tempat yang tidak ada potensi jangan dikeluarkan izin jangan sampai terjadi penyalahgunaan izin, jadi kami mulainya dari situ, di tingkat pusat kami dorong,” papar Amel. (Nazriel)







