Home / Belitong Opinion

Minggu, 15 September 2024 - 06:15 WIB

Biji Ketiau, Potensi Ekonomi Baru Masyarakat Desa Kemiri

Biji Ketiau.

Biji Ketiau.

Oleh: Putri Selita Firdaus, (Tim Litbang DJN Wanadri Belitong Sea Kayak Expedition 2024)

Setengah perjalanan pengelilingan Pulau Belitong sudah dijalani. Kini, tim sedang melakukan recovery di Desa Kemiri. Sebuah desa kecil yang sarat makna kehidupan, terutama soal kedekatan dengan alam dan adat istiadat yang masih mengakar.

Mentari sedang menuju tempat peraduannya saat perbincangan hangat kami dengan Kek Cer – sebutan masyarakat Desa Kemiri untuk tetua adat mereka. Sosok Kek Cer sangat bersahaja dan menerima kami dengan hangat. Sore itu Kek Cer membawa dua buah botol penuh berisikan minyak dan bebijian sebesar biji labu.

Tentu menjadi pertanyaan dalam benak kami, untuk apa Kek Cer membawa dua botol itu? Satu botol air mineral berukuran 500 ml berisi minyak, dan botol 1,5 ml untuk biji-bijian. Kek Cer lalu memberitahu kami bahwa itu adalah biji ketiau. Biji ketiau? Kami kian penasaran.

Baca Juga  ‎PAD Belitung Meningkat Ditengah Daya Beli yang Melemah, HIPMI Belitung: Sangat Paradoks

Ternyata masyarakat sekitar daerah Kemiri menggunakan biji ketiau untuk menghasilkan minyak sebagai pengganti minyak goreng. Ada pula banyak manfaat lain dari minyak biji ketiau, seperti untuk meredakan gatal – gatal akibat gigitan nyamuk.

Menurut penuturan Kek Cer, pada zaman dahulu masyarakat Desa Kemiri susah untuk memperoleh minyak goreng, kemudian seseorang bernama Tuk Dong menyebutkan bahwa biji pohon ketiau mengandung minyak. Sejak itu masyarakat Desa Kemiri mulai berinovasi untuk membuat minyak dari biji ketiau, yang notabene merupakan sumber daya lokal di daerah mereka. Proses pembuatannya pun masih menggunakan alat–alat tradisional seperti lesung untuk menumbuk biji dan kayu untuk pemerahan biji guna mendapatkan minyak.

Proses pengolahan mulai dari pengambilan biji hingga menjadi minyak memakan waktu selama seminggu penuh. Diawali proses pengambilan biji ketiau yang berbentuk seperti biji kopi. Biji–bijian tersebut kemudian dijemur selama dua hari. Setelah kering, biji ditumbuk hingga sedikit halus, kemudian dikukus. Setelah dikukus baru biji ketiau diperas untuk dikeluarkan minyaknya. Jika ingin menghasilkan minyak yang banyak, maka sebelum diperas biji ketiau yang sudah dikukus harus diembunkan terlebih dahulu.

Baca Juga  Mengulik Potensi Pasangan Djoni Alamsyah dan Rudi Hartono di Pilkada Belitung 2024, Perpaduan Pengusaha dan Politisi

Satu pohon setinggi 30 meter bisa menghasilkan 600 ml minyak. Di Kecamatan Membalong, khususnya Desa Kemiri tumbuh subur pohon–pohon ketiau. Saat ini masyarakat masih  mengelola pohon yang ada di alam saja, belum sampai pada tahap membudidayakan pohon ketiau (Madhuca motleyana). Selain karena kepercayaan adat yang mengingatkan untuk memanfaatkan hasil alam secukupnya, masyarakat sebetulnya perlu edukasi tentang pembibitan pohon ketiau.  Mereka dapat memaksimalkan hasil minyak sebagai bagian dari kemajuan tradisional yang perlu dilestarikan.

Selain di Pulau Belitong persebaran dari pohon ketiau ini juga dapat ditemukan di Thailand, Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.

Share :

Baca Juga

SEA Games 2023

Belitong Opinion

SEA Games 2023, Masihkah Efektif sebagai Ajang Mempererat Hubungan Negara Asia Tenggara?
Bonus Demografi Indonesia

Belitong Opinion

Bonus Demografi Menuju Indonesia Maju 2045, Dapatkan Kita Memanfaatkannya?
Provinsi Bangka Belitung

Belitong Opinion

Pengaruh Artificial Intelligence Era 5.0 Terhadap Mahasiswa di Provinsi Bangka Belitung

Belitong Opinion

“KETIKA MESIN MENGAMBIL ALIH: MASIHKAH ADA TEMPAT BAGI INTEGRITAS ASN DALAM PELAYANAN PUBLIK MODERN?”

Belitong Opinion

Maraknya Kecanduan Judi Online di Kalangan Remaja
Malam Ramadan

Belitong Opinion

Dua Pemuda Saleh di Malam ke-26 Ramadan
Kupi Tuan Kuase

Belitong Opinion

Kupi Tuan Kuase, Menikmati Kopi Ala Tuan dan Nona Belanda

Belitong Opinion

Sahani Saleh, dari ‘Tuk Lanun’ Hingga Pantun Bunga Teruntum di Atas Batu