Oleh: Putri Selita Firdaus, (Tim Litbang DJN Wanadri Belitong Sea Kayak Expedition 2024)
Setengah perjalanan pengelilingan Pulau Belitong sudah dijalani. Kini, tim sedang melakukan recovery di Desa Kemiri. Sebuah desa kecil yang sarat makna kehidupan, terutama soal kedekatan dengan alam dan adat istiadat yang masih mengakar.
Mentari sedang menuju tempat peraduannya saat perbincangan hangat kami dengan Kek Cer – sebutan masyarakat Desa Kemiri untuk tetua adat mereka. Sosok Kek Cer sangat bersahaja dan menerima kami dengan hangat. Sore itu Kek Cer membawa dua buah botol penuh berisikan minyak dan bebijian sebesar biji labu.

Tentu menjadi pertanyaan dalam benak kami, untuk apa Kek Cer membawa dua botol itu? Satu botol air mineral berukuran 500 ml berisi minyak, dan botol 1,5 ml untuk biji-bijian. Kek Cer lalu memberitahu kami bahwa itu adalah biji ketiau. Biji ketiau? Kami kian penasaran.
Ternyata masyarakat sekitar daerah Kemiri menggunakan biji ketiau untuk menghasilkan minyak sebagai pengganti minyak goreng. Ada pula banyak manfaat lain dari minyak biji ketiau, seperti untuk meredakan gatal – gatal akibat gigitan nyamuk.
Menurut penuturan Kek Cer, pada zaman dahulu masyarakat Desa Kemiri susah untuk memperoleh minyak goreng, kemudian seseorang bernama Tuk Dong menyebutkan bahwa biji pohon ketiau mengandung minyak. Sejak itu masyarakat Desa Kemiri mulai berinovasi untuk membuat minyak dari biji ketiau, yang notabene merupakan sumber daya lokal di daerah mereka. Proses pembuatannya pun masih menggunakan alat–alat tradisional seperti lesung untuk menumbuk biji dan kayu untuk pemerahan biji guna mendapatkan minyak.

Proses pengolahan mulai dari pengambilan biji hingga menjadi minyak memakan waktu selama seminggu penuh. Diawali proses pengambilan biji ketiau yang berbentuk seperti biji kopi. Biji–bijian tersebut kemudian dijemur selama dua hari. Setelah kering, biji ditumbuk hingga sedikit halus, kemudian dikukus. Setelah dikukus baru biji ketiau diperas untuk dikeluarkan minyaknya. Jika ingin menghasilkan minyak yang banyak, maka sebelum diperas biji ketiau yang sudah dikukus harus diembunkan terlebih dahulu.

Satu pohon setinggi 30 meter bisa menghasilkan 600 ml minyak. Di Kecamatan Membalong, khususnya Desa Kemiri tumbuh subur pohon–pohon ketiau. Saat ini masyarakat masih mengelola pohon yang ada di alam saja, belum sampai pada tahap membudidayakan pohon ketiau (Madhuca motleyana). Selain karena kepercayaan adat yang mengingatkan untuk memanfaatkan hasil alam secukupnya, masyarakat sebetulnya perlu edukasi tentang pembibitan pohon ketiau. Mereka dapat memaksimalkan hasil minyak sebagai bagian dari kemajuan tradisional yang perlu dilestarikan.
Selain di Pulau Belitong persebaran dari pohon ketiau ini juga dapat ditemukan di Thailand, Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.







