BelitongToday, Tanjungpandan – Matahari di langit Belitung tampak lebih cerah pada Minggu siang itu. Di landasan pacu Bandara H. AS Hanandjoeddin, sebuah burung besi bercorak kuning-putih khas maskapai Scoot perlahan mendarat, membawa serta harapan baru bagi pariwisata “Negeri Laskar Pelangi”.
Pendaratan perdana rute Singapura – Tanjungpandan ini bukan sekadar seremoni penerbangan biasa. Bagi Belitung, ini adalah pesan kuat kepada dunia bahwa gerbang internasional kini telah terbuka lebar.
Selama ini, wisatawan mancanegara yang ingin menyentuh pasir putih pantai Belitung harus menempuh perjalanan panjang melalui transit di Jakarta atau kota besar lainnya.
Namun kini, jarak antara kemegahan Changi dan eksotisme Pantai Tanjung Tinggi hanya sepelemparan batu.
Antusiasme ini terlihat nyata. Meski baru hari pertama, kursi pesawat terisi lebih dari 80 persen. Di antara deretan penumpang, tampak wajah-wajah penuh rasa penasaran yang tak sabar ingin segera mencicipi kuliner khas Gangan atau melihat ikonik-nya mercusuar di Pulau Lengkuas.
“Okupansinya luar biasa. Ini membuktikan bahwa Belitung punya daya tarik yang sangat kuat di mata dunia,” ujar Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat, dengan nada optimis saat menyambut kedatangan penumpang, Minggu 3 Mei 2026.
Kehadiran Scoot di Belitung tidak berdiri sendiri. Dengan Singapura sebagai hub penerbangan global, Belitung kini secara otomatis terhubung dengan jaringan wisatawan dari berbagai belahan dunia, khususnya kawasan Asia.
Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pontas Pandjaitan, yang turut hadir dalam momen bersejarah tersebut, menekankan pentingnya konektivitas ini. Menurutnya, akses langsung adalah kunci utama untuk menempatkan Belitung dalam peta destinasi unggulan internasional.
Pemerintah daerah pun tidak ingin membuang momentum. Strategi promosi agresif mulai disusun, menyasar negara-negara tetangga yang memiliki akses langsung ke Singapura. Tujuannya satu: memastikan kursi-kursi pesawat itu tetap penuh setiap harinya.
Di luar data statistik dan angka kunjungan, ada harapan yang mekar di hati para pelaku UMKM, pemilik penginapan, hingga pemandu wisata lokal. Setiap penumpang yang turun dari pesawat Scoot adalah potensi penggerak roda ekonomi daerah.
Rute baru ini menjadi babak baru dalam narasi pembangunan Belitung. Jika dulu Belitung dikenal karena timahnya, kini dunia mengenalnya karena pesona alamnya yang bisa dijangkau hanya dalam satu jam penerbangan dari salah satu pusat tersibuk di dunia.
Kini, tugas besar menanti di depan mata: menjaga keramahan, meningkatkan fasilitas, dan memastikan setiap wisatawan yang pulang membawa cerita indah tentang Belitung ke seluruh penjuru bumi. (Nazriel)
![]()







