BelitongToday, Tanjungpandan – Deru mesin pesawat Garuda Indonesia yang mendarat mulus di landasan pacu Bandara Internasional H. AS Hanandjoeddin malam itu, Kamis (11/6) pukul 20.30 WIB, menjadi penanda akhir dari sebuah perjalanan spiritual yang panjang.
Bagi 42 jamaah haji asal Kabupaten Belitung, sentuhan roda pesawat pada aspal bandara adalah akhir dari kerinduan mendalam pada kampung halaman, sekaligus awal dari babak baru kehidupan mereka sebagai penyandang gelar ‘Haji’ dan ‘Hajjah’.
Suasana di area kedatangan bandara seketika berubah magis. Di bawah temaram lampu malam, guratan lelah di wajah para jamaah yang baru saja menempuh penerbangan transit dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang, luruh seketika. Ganti berganti dengan air mata haru dan senyum sumringah saat kaki mereka kembali menginjak tanah Bumi Laskar Pelangi.
Di garda depan penjemputan, Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat, berdiri menyambut. Bukan sekadar sambutan protokoler formal, melainkan sebuah pelukan hangat seorang pemimpin yang lega mendapati warganya kembali dalam keadaan utuh dan sehat walafiat.
“Malam hari ini para jemaah haji dari Kabupaten Belitung dan Belitung Timur bisa kembali tiba dengan selamat dan dalam keadaan sehat walafiat. Semoga apa yang telah ditunaikan di Tanah Suci mendapatkan rida dan rahmat dari Allah SWT,” ujar Djoni dengan nada suara yang sarat akan rasa syukur.
Menjaga “Kemabruran” di Tengah Masyarakat
Bagi para jamaah, menunaikan rukun Islam kelima di bawah cuaca terik Makkah dan Madinah adalah ujian fisik dan mental yang luar biasa. Namun, tantangan sesungguhnya justru baru dimulai saat mereka melangkah keluar dari pintu bandara dan kembali ke rumah masing-masing.
Hal ini digarisbawahi dengan menyentuh oleh Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Belitung, Fitriatun. Baginya, kepulangan ini bukan sekadar urusan logistik dan transportasi, melainkan kepulangan para “insan baru” yang diharapkan membawa perubahan bagi lingkungan sekitar.
”Harapan kami semoga jamaah haji Belitung bisa menjaga kemabruran dari ibadah hajinya,” tutur Fitriatun lembut. “Menjadi lebih baik dalam beribadah maupun dalam bermasyarakat, menjadi insan yang lebih bermanfaat untuk kemaslahatan umat, lebih rendah hati, dan menjadi pengingat serta suri teladan di kehidupan bermasyarakat.”
Pesan Hangat: Lepas Rindu, Lalu Istirahat
Sebelum para jamaah berhamburan ke pelukan keluarga yang sudah menanti di luar pagar bandara dengan sabar, Bupati Djoni menyisipkan satu pesan sederhana namun penuh perhatian. Beliau tahu, setelah berpekan-pekan beribadah dengan intensitas tinggi, fisik para jamaah butuh rehat.
“Pesan saya, setelah melepas rindu dengan keluarga, para jamaah semuanya agar tetap menjaga kesehatan dan memanfaatkan waktu untuk beristirahat yang cukup di rumah masing-masing,” imbau Bupati hangat.
Malam semakin larut di Tanjungpandan, namun kehangatan justru baru saja dimulai di rumah-rumah para jamaah. Pelukan erat anak cucu, aroma hidangan rumah yang dirindukan, dan untaian doa yang dipanjatkan bersama menjadi penutup malam yang sempurna. 42 jamaah haji Belitung telah pulang, membawa serta berkah dari Tanah Suci untuk menerangi sudut-sudut pulau mereka. (Nazriel)
![]()







