BelitongToday, Tanjungpandan – Memasuki akhir Januari ini, di beberapa sudut persawahan Kabupaten Belitung, tercium aroma wangi gabah yang matang.
Sejauh mata memandang, hamparan hijau kini telah berganti menjadi permadani kuning yang berkilau di bawah sengatan matahari tropis.
Padi-padi itu mulai merunduk, tanda bulir-bulir beras di dalamnya sudah terisi penuh dan siap dipanen.
Bagi para petani di sini, warna kuning ini bukan sekadar pergantian musim, melainkan simbol ketangguhan melawan cuaca yang kian sulit ditebak.
Meski tantangan alam seperti banjir sempat mengintai di beberapa titik, semangat para petani tidak ikut tenggelam.
![]()
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Belitung, Tenny Meireni, mencatat ada sekitar 50 hektare lahan yang kini sedang merayakan masa keemasannya.
“Kami menilai kemampuan produksi sebesar 3,68 ton GKG per hektare ini sudah cukup maksimal,” ungkap Tenny, Rabu 28 Januari 2026.
Angka ini menjadi bukti bahwa di tengah cuaca anomali, tanah Belitung tetap ramah bagi mereka yang telaten merawatnya.
Di balik data produksi tahun 2025 yang mencapai 1.120 ton, ada peluh petani yang setiap pagi memeriksa saluran irigasi dan memastikan hama tidak merusak harapan mereka.
Musim panen Januari-Februari ini menjadi “pemanasan” yang manis untuk memulai lembaran baru di tahun 2026.
Pemerintah daerah pun tak tinggal diam melihat “emas” ini merunduk. Berbagai dukungan telah disiapkan untuk memastikan musim tanam berikutnya tetap produktif. (Nazriel)
![]()







