Keselamatan adalah Prioritas
Dalam situasi seperti ini, pilot memiliki kewenangan dan tanggungjawab menunda keberangkatan pesawat.
“Lion Air sangat memahami, meskipun menunda keberangkatan dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang dan kru, namun keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan pilot,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kru yang bertugas memberitahu seluruh penumpang secara jelas dan akurat. Sebagai upaya memberikan rasa keamanan dan kenyamanan bagi penumpang.
Setelah pesawat berada pada tempat parkir (apron), awak kabin memberikan instruksi (arahan) kepada seluruh penumpang. Untuk kembali ke ruang tunggu di terminal bandara sampai mendapatkan pemberitahuan lebih lanjut.
Hal ini untuk menjamin bahwa penumpang tetap berada dalam kondisi yang aman dan nyaman, sambil menunggu keputusan selanjutnya.
“Lion Air dapat memastikan bahwa semua penumpang mendapatkan pelayanan yang baik dengan memberikan kompensasi menurut ketentuan yang berlaku,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Danang menjelaskan, setelah melakukan pengecekan pada area kargo pesawat, perbaikan ternyata membutuhkan waktu signifikan dan tidak dapat dikerjakan secara cepat dan instan.
“Lion Air memutuskan untuk mendatangkan pesawat pengganti yaitu Boeing 737-800NG registrasi PK-LJW dari Jakarta. Langkah ini guna memastikan bahwa penerbangan beroperasi secara aman dan nyaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengiriman pesawat pengganti membutuhkan waktu (proses) yang cukup signifikan. Langkah alternatif ini bertujuan memastikan bahwa pesawat yang beroperasi pada penerbangan selanjutnya dalam keadaan baik dan aman (prima).
Setelah pesawat pengganti tiba, Lion Air menjalankan persiapan dan prosedur boarding kembali. Termasuk pengecekan ulang pesawat, pemeriksaan dokumen, dan prosedur keselamatan lainnya sebelum keberangkatan.
Lion Air sudah menerbangkan kembali penerbangan JT-142 pukul 14.25 WIB dari Bandara Depati Amir dan dijadwalkan mendarat pukul 15.10 WIB di Bandar Udara HAS Hanandjoeddin.







