Home / Belitong Opinion

Minggu, 15 September 2024 - 07:00 WIB

Menciptakan Keselarasan Dengan Alam

Bumi Belitong.

Bumi Belitong.

Unsur alam dalam arsitetur modern

Melihat potensi sumber daya alam Belitong, sekitar Kawasan Tanjung Kelayang Pohon renggadaian termasuk juga salah satu pohon yang biasa ditemukan di hutan gambut, 70 % pembagunan Sheraton berasal dari kekayaan alam yang berada di Belitong. Tujuannya untuk mengurangi jejak karbon mulai dari pemakaian granit murni untuk lantai, serta ceiling dan tiang – tiang yang memakai pohon Renggadai. Dalam proses perakitan ceiling pohon bengkirai pun belajar langsung dari para nelayan Tanjung Binga, karena ketika para nelayan tersebut akan menjemur ikan asin mereka menggunakan kayu renggadaian sebagai tempat tatakan penjemur ikan menjadi ikan asin yang mampu bertahan selama 20 tahun dan masih kuat.

Perbedaan granit tua dan muda dapat dibedakan secara kasat mata yang dapat terlihat dari besar dan kecilnya mineral megnetiknya, yang berwarna hitam biasanya semakin kecil artinya semakin muda dan kebalikannya semakin besar maka akan semakin tua usia granitnya. Secara tidak langsung pembangunan Sheraton sebagai bukti kekayaan dari Pulau Belitong, segala ornamen pun terbuat dari handicraft. Meja dan kursi pun dibuat dari kayu – kayu yang hanyut dari laut dari jenis Pohon Ketapang, terdampar di wilayah pesisir area Tanjung Kelayang Reserve sebagai kekayaan alam yang diberikan oleh laut sebagai warisan.

Ketika melakukan field trip bersama biologist hebat asal Belitong, biasa dipanggil bang Akbar. Perjalanan pertama akan diperlihatkan mengenai pakis purba bernama Psilotum nudum yang sedang berbuah sorus (sporangia) yang berisi spora, dengan hanya batang sederhana dan tanpa daun ataupun pucuk daun yang menggulung khas pakis. Dan pakis purba ini banyak tersebar di daerah ekuatorial dunia dan untuk di Sheraton sendiri akan sangat mudah dijumpainya, diwilayah eropa statusnya terancam punah (berdasarkan IUCN Red List).

“Psilotum nudum, tumbuhan purba yang seakan berasal dari masa silam, tersebar luas di wilayah tropis, namun jejaknya yang paling mencolok tampak di ujung-ujung dunia yang jauh dari asalnya. Di Eropa, ia hadir seperti harta karun tersembunyi, hanya ditemukan di tiga subpopulasi kecil di selatan Spanyol, di Los Barrios dekat Cádiz. Bagaikan jiwa yang tersesat, populasi ini terisolasi, terpisah dari saudara-saudaranya oleh gurun yang luas dan lautan yang bergelora. Di seberang samudra, populasi terdekat berdiam di Kepulauan Cape Verde. Di Madeira, Psilotum nudum telah menjadi bagian dari alam, meski tempat yang ia tempati begitu kecil, hanya 0,01 kilometer persegi luasnya. Kehadirannya di benua Eropa adalah misteri yang mempesona, sebuah kisah tentang kesunyian dan kelangkaan yang hidup dalam keremangan wilayah-wilayah terpencil, menantang waktu dan ruang dengan keheningan yang megah.”

Berjalan masuk menuju area dalam Sheraton akan dijumpai danau – danau yang terdapat kaolin didalamnya, sehingga menciptakan warna biru yang segar dipandang. Kandungan kaolin tersebut diambil dari sebuah waduk yang letaknya masih berada disekitar Tanjung Kelayang Reserve, diambil dari Water Treatment Plan yang menggunakan solar panel suplai listrik sebanyak 40% sisanya 60% dari PLN. Untuk memberikan edukasi juga khususnya kepada masyarakat pesisir untuk tidak menggunakan air tanah untuk menghindari penurunan tanah seperti di Jakarta Bagian Utara, Water Treatment Plan sendiri sudah mampu memenuhi kebutuhan air di Sheraton.

Baca Juga  SEA Games 2023, Masihkah Efektif sebagai Ajang Mempererat Hubungan Negara Asia Tenggara?

Perjalanan selanjutnya menuju wilayah hutan kerangas untuk melihat ghost orchid yang keberadaannya menurut kacamata masyarakat awam sangat menyebalkan, tinggi ekspetasi dalam penggambaran sosok anggrek hantu tersebut namun ternyata berbentuk seperti lidi berwarna hitam tanpa daun namun memiliki biji dan bunga. Ia tumbuh pendek dan bebas diatas tanah, jika daun gugur berserakan dimana – mana maka anggrek tersebut akan sulit dilihat karena memperlukan ketelitian tingkat dewa. Mengingatkan kita seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” sesaat mengenal anggrek hantu ini seketika mata kita seperti terbiasa melihat persebaran mereka di area yang sangat kecil dibandingkan dengan area kawasan Tanjung Kelayang Reserve secara keseluruhan.

Baca Juga  Kapolres Beltim Targetkan FPTI Torehkan Prestasi

Hanya 30 meter persegi saja kata biologist kami, melihatnya membutuhkan ketelitian dan melatih kita terhadap seluruh Indra Kepemilikan. Yang akhirnya menyayangi persebaran mereka di alam akan jauh lebih memaknai bahwa bahkan tanpa klorofil-pun saat dua organisme bersepakat untuk bersama maka hanya manusia yang dapat menjaganya dari kepunahan. Seperti halnya anggrek hantu ini, sebuah ikatan Myco-heterotrophy antara jenis anggrek Leicanorchis multiflora dengan jamur yang diprediksi berasal dari jenis Lentinus, bertahan hidup di area yang saat ini hanya jumpai di Hutan Primer Tanjung Kelayang Reserve, menurut penuturan seorang biologist.

Buggy car lalu membawa kami menuju area ternak lebah madu “Honey farm” yang juga diwilayah itu terdapat sedotan yang terbuat dari pakis, seperti alam bersahabat dengan sinar mentari yang tidak terlalu ganas memberikan keagungannya dan perjalanan pun dimulai kembali. Baiklah cukup skeptis ketika mendengar kata lebah, bayangan akan sengatan mematikan muncul. Melewati jembatan dan terdapat banyak pohon tinggi menjulang, terdapat 10 kotak lebah. Menurut penuturan bapak Iwan Itu tidak menyengat karena lebah tersebut merupakan lebah tanpa sengan “stingless bee” berjenis Heterotrigona itama. Kantong madunya pun unik jika biasanya berbentuk hexagon namun madu dari jenis lebah ini berbentuk kantong – kantong kecil atau dikenal dengan Honey Pod sehingga bisa langsung meminum langsung dari kantong tersebut.

Perjalanan kami mengelilingi Tanjung Kelayang Reserve telah usai, kami belajar banyak hari ini. Bukan hanya soal kekayaan di  Pulau Belitong, tapi bagaimana manusia dengan anugerah kepintaran dan kebijaksanaannya sungguh dapat berdaya hidup selaras dengan alam.

Share :

Baca Juga

Belitong Opinion

Sahani Saleh, dari ‘Tuk Lanun’ Hingga Pantun Bunga Teruntum di Atas Batu
Generasi Muda

Belitong Opinion

Minimnya Kesadaran Generasi Muda terhadap Perkembangan Daerah

Belitong Opinion

Mengulik Potensi Pasangan Djoni Alamsyah dan Rudi Hartono di Pilkada Belitung 2024, Perpaduan Pengusaha dan Politisi

Belitong Opinion

BPC HIPMI Belitung Dorong Kenaikan Tren Investasi, DPMPTSPP Belitung Diminta Lebih Aktif dan Berbenah
Anjing Liar

Belitong Opinion

Anjing Liar, Kemanakah Kita Harus Menyingkirkannya?

Belitong Opinion

Legenda Beripat Beregong: Kisah dari Kelekak Gelanggang
Kelangkaan Gas Belitung

Belitong Economic and Business

Mengurai Benang Kusut Kelangkaan Gas Melon di Belitung, Jangan Jadi Macan Ompong

Belitong Opinion

“KETIKA MESIN MENGAMBIL ALIH: MASIHKAH ADA TEMPAT BAGI INTEGRITAS ASN DALAM PELAYANAN PUBLIK MODERN?”