BelitongToday, Manggar – Riuh tepuk tangan bergema di Gedung Auditorium Zahari MZ, Selasa (5/5/2026) pagi. Satu per satu anak-anak naik ke panggung, ada yang melenggak-lenggok, menggambar, berdendang, bercerita, hingga menumpahkan imajinasi mereka.
Di sanalah Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SD/MI Kabupaten Belitung Timur (Beltim) tahun 2026 berlangsung. Ini bukan sekadar ajang lomba, melainkan panggung untuk mewujudkan mimpi anak-anak.
Beberapa peserta menggoreskan sketsa dan menorehkan kuas, mengembangkan ilustrasi dari titik-titik imajinasi. Di sudut lain, peserta lainnya tampak tekun merangkai buah tangan dan aneka kerajinan yang berpotensi menjadi produk bernilai jual.
Tak kalah menarik, tim peserta lomba tari menampilkan gerakan yang kompak dan anggun. Tiga penari memadukan tradisi dengan semangat muda yang mengalir alami. Di panggung kecil itu, mimpi-mimpi besar mulai menemukan jalannya.
Di bangku penonton, wajah-wajah tegang bercampur harap terlihat jelas. Kepala sekolah, guru, orang tua, hingga sesama peserta menjadi saksi tumbuhnya keberanian, pelan namun pasti.
Kegiatan yang mengusung tema “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas Seni Budaya” ini diikuti 100 peserta terbaik yang lolos dari 435 siswa pada tahap penyisihan. Mereka berkompetisi dalam tujuh cabang lomba, mulai dari gambar bercerita hingga mendongeng.
Sekretaris Dinas Pendidikan Beltim, Dedy Wahyudi, mengatakan kegiatan ini menjadi wahana aktualisasi prestasi peserta didik di bidang seni dan sastra, sekaligus mendorong pengembangan minat dan bakat siswa sekolah dasar di Kabupaten Beltim.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan prestasi berkelanjutan serta berkontribusi dalam membentuk karakter peserta didik untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu berkompetisi di tingkat nasional maupun global,” kata Dedy.
Didampingi Kepala Bidang Pembinaan SD, Andi Irawan, Dedy menyebut FLS3N sebagai ruang penting bagi anak-anak untuk mengenali dan mengekspresikan potensi diri.
“Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak berani tampil, berproses, dan menumbuhkan karakter melalui seni,” ujarnya.
![]()







