Deskripsi pakaian yang dikisahkan oleh Cornelis de Groor pada tahun 1887 tanpa dilengkapi dengan gambar. Namun foto-foto abad 20 tahun 1925-1926 setidaknya sangat mirip dengan deskripsi tersebut. Dalam sebuah foto tahun 1925 yang diposting oleh Tasya Hadi tampak sejumlah lurah di Belitong sedang berfoto bersama. Pada foto terdapat keterangan yang menerangkan bahwa pakaian yang dikenakan oleh para lurah tersebut adalah pakaian adat. Namun tidak disebutkan nama khusus untuk pakaian adat tersebut. “Foto ini direpro dari arsip Pak Sihan. Di sisi balik foto terdapat tulisan tangan klasik dari keluarga lurah Lasar masa itu,” kata Tasya dalam postingannya, 25 September 2021.


Selain pakaian resmi, penduduk Belitong juga mengenakan pakaian lain yang biasa dipakai dalam acara tertentu seperti pentas kesenian. Contohnya dalam pementasan tari Campak. Keterangan tentang Tari Campak diperoleh dalam sebuah buku berjudul Propinsi Sumatera Selatan terbitan Kementerian Penerangan tahun 1953. Dalam buku itu disebutkan bahwa Campak adalah tarian yang berasal dari Pulau Belitung. Para penari Campak yang perempuan mengenakan baju kurung, sedangkan laki-laki mengenakan pakaian tuluk belanga.
“Pakaian penari Tjampak ini tak ubahnja seperti pakaian Melaju, jaitu perempuannja memakai badju kurung dan lelaki memakai petji dan pakaian tuluk belanga, serta kain setengah tiang. Tetapi ada sedikit bedanja dgn tarian Melaju, bahwa mereka tidak bersintuhan,” demikian tulisan asli yang dikutip dalam buku tersebut.







