Tuk Lanun
Sahani Saleh atau Sanem lahir di Burung Mandi, Kecamatan Damar, 7 November 1958. Sanem lahir di sebuah desa yang terletak pesisir pantai Burung Mandi.
Sahani Saleh kecil sudah dekat dengan alam salah satunya adalah laut. Pergi memancing atau menjaring ikan di laut telah menjadi kebiasaan atau hobinya sejak kecil.
Kedekatannya dengan laut membuat Sanem mendapatkan panggilan ‘Tuk Lanun’. Dalam beberapa acara misalnya, Sanem kerap dipanggil dengan sapaan ‘Tuk Lanun’.
Bahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Sandiaga Uno dalam beberapa kali lawatannya ke Belitung kerap memanggil Sanem dengan panggilan ‘Lanun’.
Panggilan ‘Lanun’ membuat Sanem menjadi semakin fenomenal di kalangan masyarakat lokal. Mulai dari nelayan, penghobi mancing, dan teman sejawatnya selalu menyebutnya dengan panggilan ‘Tuk Lanun’ atau ‘Kik Lanun’.
Bagi Sanem sendiri, ia tidak merasa risih dipanggil ‘Lanun’. Meskipun ‘Lanun’ memiliki konotasi negatif pada zaman dahulu yakni perompak atau bajak laut.
Sanem mengaku memang memiliki keturunan ‘Lanun’ atau ‘Iranun’, Namun bukan berkonotasi negatif. Ia memaknai ‘Lanun’ atau ‘Iranun’ sebagai sebuah keberanian, kegigihan, keuletan, dan ketangguhan sebagai penguasa lautan pada zaman itu. Sehingga inilah menumbuhkan kecintaannya terhadap laut (Bahari) yang teramat dalam.







